Love Me Again (SEQUEL)

21372543_897529603732068_6832291828239171584_n

halo readers..!

sesuai seperti yang kalian minta untuk di buatkan sequel dari fanfict series ku yang pertama ‘JUST LOVE ME!’, maka dari pada itu aku akan mengabulkan sedikit permintaan kalian wahai readersku yang setia :*

di fanfic ini akan bercerita tentang tiga tahun mendatang setelah kepergian sang tokoh utama yakni, Kim Taeyeon.  aku juga menambahkan beberapa peran tambahan yang murni aku ciptakan sendiri :v jadi kalian harap maklum ya jika nanti jalan cerita sedikit berubah dari fanfict series yang pertama.

selamat menikmati 🙂

 

“JIKA CINTA ITU MEMANG NYATA KEBERADAANNYA, MAKA AKU TAK BUTUH PENGAKUANMU UNTUK MENGATAKAN BAHWA KAU CINTA AKU. AKU HANYA BUTUH KEPERCAYAAN, NISCAYA CINTA KITA AKAN BERTAHAN LAMA”

 

 

Taeyeon pov

 

Sudah tiga tahun lamanya sejak pertama kali aku menginjakkan kaki di negeri Big Ben ini. Ribuan hari, jutaan jam sudah berhasil ku isi dengan berbagai hal yang bermanfaat tentunya. Meski di awal-awal kedatanganku ke tempat ini  sedikit sulit, sebab aku tak begitu fasih berbahasa inggris, dan lagi dialek warga disini sangat halus dan sopan, tak seperti bahasa inggris Amerika yang banyak kutahu tak penuh aturan dalam pengucapannya, membuatku harus melalui berbulan-bulan untuk bisa beradaptasi dan berteman dengan warga setempat.

Berbicara tentang teman, aku tak lagi anti social seperti dulu. Aku memutuskan untuk menjalin pertemanan dengan berbagai golongan orang disini, meski diawal juga sulit untuk seorang introvert sepertiku mengembangkan diri. Tapi proses tidak pernah mengkhianati hasil, karena aku berhasil menjalin hubungan social di kampus maupun di lingkungan tempatku tinggal, dan akhirnya aku juga memiliki beberapa teman baik yang siap mendengar curahan isi hatiku saat aku kesepian dan merindukan Seoul, yap! Mereka berhasil menggantikan posisi yuri,Jessica dan lainya yang tak lagi berada disekitarku.

Aku tinggal di sebuah apartemen di kawasan London, apartemen sederhana namun masih sangat layak untuk di tempati, karena aku benar-benar ingin belajar mandiri tanpa harus meminta uang lebih pada Appa. Bahkan tak jarang uang yang dikirimkan appa tak ku gunakan, aku memutuskan untuk menabungnya agar bisa berguna di masa depan, karena aku juga bekerja sambilan di sela-sela waktu kuliahku. Meski hasilnya tak banyak, tapi aku tetap bersyukur karena gaji yang ku peroleh masih bisa kugunakan untuk membeli keperluan rumah tangga dan makan sehari – hari.

Orang-orang disini tidak terlalu buruk, mereka masih menerima siapa saja untuk di jadikan teman tanpa pandang bulu. Meskipun masih saja ada beberapa orang yang suka membully dan memandang kasta. Tapi aku bersyukur karena mendapat teman-teman yang mau menerimaku apa adanya, sebab aku merahasiakan identitasku sebagai putri dari keluarga yang cukup kaya di Korea. Aku tak mau orang-orang hanya peduli pada golonganku, karena tugasku di kota ini hanya untuk belajar dan mencari pengalaman hidup yang takkan bisa terlupakan.

Amber, gadis bertato dan berambut pendek pirang ini sedang duduk di sofa apartemenku, kedua tangannya memangku makanan yang berhasil ia curi dari lemari es milikku dan kedua matanya sibuk menatap layar persegi tipis di hadapannya.

Ia sama sekali tak menghiraukan kehadiranku yang sejak tadi mengawasinya dengan sedikit kejengkelan. Dia tak jauh berbeda dengan sosok Sooyoung yang sangat gemar menghabiskan makanan, bedanya hanya amber berfisik seperti namja tampan dan sooyoung bak gadis kolongmerat yang cantik dan semampai.

“mau sampai kapan kamu menatapku? Aku tau betapa bersyukurnya kau bisa berteman dengan gadis tampan sepertiku kekeke” ucapnya tanpa berdosa, aku begitu tertohok mendengarnya. Dasar menyebalkan!

“cih! Dasar besar kepala! Aku hanya heran mengapa kamu sering menghabiskan makananku dengan seenaknya” dia hanya terkekeh sambil melanjutkan acara nontonya.

Amber adalah tetangga ku di apartement ini, kamar apartemennya hanya berjarak beberapa nomor yang letaknya di sudut lorong. Walaupun kami bertetangga, entah mengapa ia lebih suka menghabiskan malam di tempatku, dan tentu saja makananku juga ikutan habis! Tapi aku sedikit bersyukur karena aku tak lagi begitu kesepian di ruangan ini seorang diri.

Amber adalah gadis yang lucu dan sedikit periang, karena dia orang korea pertama yang ku temui di kota ini. Dia begitu baik dan sabar saat mengajariku cara berkomunikasi dengan warga setempat, tapi amber bukanlah orang korea asli, karena ia mengaku jika tak pernah sekalipun menginjakan kaki di sana. Ia hanya bisa berbahasa korea sedikit-sedikit namun tak begitu buruk, dia bercerita padaku bahwa ibunya warga Negara korea asli yang ikut pindah ke Amerika saat menikah dengan ayahnya yang merupakan pria berdarah kanada.

Sejak kecil dia menghabiskan waktu di amerika hingga  kedua orang tua meninggal dalam sebuah kecelakaan lalu lintas saat ia berumur 12 tahun, untuk menghilangkan rasa dukanya ia pun memutuskan untuk berpergian mengunjungi beberapa Negara untuk mencari kebebasan dari rasa duka yang ia rasakan, hingga ia memantapkan untuk menetap di London untuk waktu yang lama. Dan bertemu denganku, amber begitu banyak membawa perubahan dalam hidupku karena begitu banyak pelajaran yang dapat kuambil dari setiap cerita yang ia ceritakan.

berhentilah melamun buddy, ayo ke bar! Aku bosan disini” amber menarik- narik tanganku dengan sedikit aegyo yang menjijikan, aku hanya memandangnya jengah.

“baiklah, aku akan ganti baju terlebih dulu”

..

Keadaan bar cukup sesak dengan tumpukan orang-orang yang mabuk dan berdansa di bawah musik yang sangat keras. Sejujurnya aku tak begitu menyukai suasana di sini, dan akan lebih baik jika aku menghabiskan waktu untuk menonton drama sialan di sofa abu-abuku atau mungkin nonton konser band local yang tidak terlalu padat dengan jiwa-jiwa manusia dengan pengaruh alcohol. Semenjak pindah ke London, aku memutuskan untuk menjauhi alcohol dan bar karena toleransiku terhadap alcohol begitu rendah, dan tentu saja aku lebih menyukai soju dibandingkan minuman keras di sini.

Tetapi bagaimanapun aku tetap mengunjungi bar bersama amber setiap bulan sekali, hanya bersama amber! Karena hanya dia yang bisa menjagaku saat mabuk karena takut ada orang yang dengan senang hati memanfaatkan ku saat sedang mabuk. Betapa manisnya dia.

“hey guys! Lama tak melihat kalian disini. Mau minum apa?” sapa gadis bartender berwajah oriental yang ku tau namanya Hyoyeon, terlebih lagi kami sama-sama bermarga Kim, membuatku dan dia jadi cepat akrab dan memutuskan berteman.

“seperti biasa saja Hyo. Bagaimana harimu?” tanyaku padanya, hyoyeon adalah orang korea asli yang sudah lama tinggal disini, kedua orang tuanya bekerja di bidang asuransi, akan tetapi dia sering mengunjungi Busan setiap tahunnya untuk mengunjungi kakek dan neneknya.

Dia berkata ingin pindah ke seoul suatu hari nanti,  menikah dengan namja korea asli dan membangun keluarga kecilnya disana, aku tak bisa berhenti tersenyum saat melihat mata nya yang berbinar membicarakan rencana pernikahannya itu, bahkan aku telah berjanji akan hadir dan bernyanyi di pesta pernikahannya nanti.

“membosankan seperti biasa” jawabnya sambil tertawa, “bagaimana dengan kuliahmu? Wisuda sudah semakin dekat, bukan?” tanyanya sambil menyerahkan cocktail, aku dengan senang hati meneguknya. Racikan hyoyeon sungguh luarbiasa.

“yeah begitulah, dua bulan lagi wisuda ku akan berlangsung. Semuanya sudah rampung, hanya tinggal mengurus beberapa tugas saja. Ingat janjimu kan?”

Hyoyeon mengangguk sambil tertawa “tentu saja taeng ah!. Aku gadis yang selalu menepati janji. Kau mau hadiah apa untuk kubawa ke acara wisudamu nanti?”

“cukup siapkan passportmu dan ikut denganku ke Seoul” ucapku serius padanya.

“ayolah taeng! Kita sudah membicarakan ini. Aku tak mungkin di meninggalkan orang tuaku disini”  hyoyeon sedikit tersenyum sedih kearahku, akupun mencoba kembali meyakinkannya.

“kamu sudah tau latar belakangku pindah ke kota ini Hyo ah. Ayo bergabung ke perusahaan music keluargaku, kita bisa memulai karir dari sana bersama-sama. Kau tau, bakat rappermu tak bisa dianggap remeh. Kamu sangat keren!”

“arraseo, gadis keras kepala! Aku akan mempertimbangkannya nanti” ucapnya sambil menarikku kelantai dansa, untuk bergabung dengan amber yang sejak tadi sudah lebih dulu bergoyang bersama gadis-gadis cantik nan seksi.

 

 

 

>>>>>>

Suasana kampus sedikit sepi hari ini, terutama di fakultas seni dan musik sepertiku. Karena mengingat hari ini sedang libur dari kegiatan perkuliahan pada umumnya, hanya beberapa orang sepertiku saja yang terlihat hadir untuk berlatih di studio music milik kampus.

Ada Ben si pria tampan berdarah Jerman dan juga Jeremy pemuda local yang juga berkuliah di kampus ini. Mereka berdua bisa di bilang berteman baik denganku, tak jarang kami menghabiskan waktu bersama untuk manggung di café-café setempat untuk sekedar menambah penghasilan maupun sekedar menyalurkan bakat.

Ben sangat mahir dalam mengetukkan stick drum nya serta Jeremy yang sangat mencintai gitar bak kekasih nya sendiri, kadang – kadang ia juga memainkan saxophone. Sedangkan aku lebih fokus untuk bernyanyi mengolah vocal suaraku agar lebih baik dari waktu ke waktu, namun sesekali aku akan bermain piano untuk mengisi waktu luang.

Setelah break latihan membawakan beberapa lagu bersama mereka, aku memutuskan untuk melihat ponsel, mengecek beberapa pesan dari keluarga dan teman-teman di Seoul.

Namun hatiku sedikit berbunga-bunga saat membaca satu notif pesan dari gadis yang berhasil mengisi ruang di hatiku, dialah kekasihku.

            Chagiyya:*

-kamu sudah makan sayang? Jangan terlalu lelah untuk latihan hari ini ya! Minumlah vitaminmu, fighting!!!! ^^9

Dengan senyum yang tak bisa di sembunyikan aku pun bergegas untuk membalas pesan tersebut.

To Chagiyya:*

  • Kim Taeyeon melapor kepada tuan putri bahwa sudah melakukan seluruh perintahmu ! aku harap kamu juga sudah makan disana? (aku merindukanmu, baby). ;(;(

 

tak berapa lama, pesanpun kembali masuk ke ponselku.

 

Chagiyya:*

aku lapar! Tapi disini sudah terlalu malam untuk memesan pizza L seandainya saja kamu disini pasti asyik :3 cepat selesaikan wisudamu dan kembali kesini, apartemenku terlalu luas untuk sendiri *wink

 

aku pun tak bisa berhenti tertawa membacanya. Sungguh menggemaskan jika membayangkan bagaimana wajah nya yang sedang cemberut menahan rindu, ketahuilah bahwa aku juga merindukanmu sayang.

 

“Kim!! Kemarilah, tentukan lagu untuk konser nanti malam!!” teriak Jeremy padaku. Mau tak mau aku harus menyimpan ponselku kembali dan menghampiri mereka. Karena nanti malam, band kami mendapat kesempatan untuk mengisi acara di salah satu konser besar di wilayah Manchester. Kesempatan emas, bukan?

 

 

 

 

 

Pukul 2 dini hari, di kamar hotel.

 

Setelah beberapa jam manggung, Taeyeon dan beberapa temannya memutuskan untuk bermalam di salah satu hotel di kota Manchester, dan mengisi bebarapa hari untuk liburan di kota tersebut.

Taeyeon memutuskan untuk segera berpamitan tidur ke kamarnya, yap karena dana yang terbatas mereka hanya memesan dua kamar, Ben , Jeremy dan Austin yang tak lain anggota tambahan dalam band meski berbeda kampus, berada di kamar yang sama. Sementara Taeyeon harus berbagi kamar yang sama dengan Seolhyun, gadis korea yang bekerja sebagai model majalah dewasa di London, yang tak lain merupakan sepupu dari Austin.

Seolhyun secara terang-terangan mengaku sebagai fans Taeyeon sejak pertama kali bertemu saat Taeyeon dan bandnya manggung di acara kampus. Diam-diam Seolhyun jatuh hati padanya, meskipun Taeyeon tak pernah menganggap hubungan mereka lebih dari sekedar teman, Taeyeon terlalu setia pada pacarnya meskipun mereka harus terpisah oleh jarak selama tiga tahun, Taeyeon tak peduli dan terus menjaga komitmennya.

“unnie, besok temani aku jalan-jalan berkeliling. Bisakah?” Tanya seolhyun lembut, Taeyeon yang sedikit lagi hampir tertidur hanya mengangguk menanggapinya.

“yeay!! Gumawo unnie, good night” ucapnya pelan sambil mengecup pipi Taeyeon, namun Taeyeon sudah terlalu lelah untuk menyadarinya. Hingga mereka tertidur dalam keadaan berpelukkan.

 

 

 

 

Keesokan harinya.

 

Mereka berlima memutuskan untuk berkeleling kota menggunakan van milik Ben.

Jerremy sejak di awal perjalan sudah bernyanyi merdu menggunakan gitar tuanya, ia berharap bahwa di balik bait-bait lirik yang di kumandangkannya, bisa membuat Seolhyun sadar betapa besarnya cinta yang ia rasakan terhadap gadis tersebut. namun sepertinya Seolhyun terlalu acuh dengan perasaan pria tersebut, hatinya sudah terlanjur diisi dengan kehadiran Taeyeon, meskipun ia sadar jika taeyeon tak pernah menatapnya lebih dari sekedar adik. Sebuah cinta segitiga yang rumit L

Van milik ben berhenti di sebuah gedung tua, masyarakat disana menyebutnya sebagai museum lukisan seni tertua di kota itu. Mereka pun masuk kedalam gedung tersebut untuk sekedar mengabadikan moment dan melihat-lihat lukisan tua dari para pelukis terkenal dunia.

“unnie! Ayo berfoto disini” ajaknya pada taeyeon, tentu saja gadis itu menyetujuinya. Austin mau tak mau harus berubah profesi menjadi fotografer tanpa di bayar demi sepupu nya. Hingga beberapa saat ia pun mengeluh “hey girls! Tak bisakah aku menikmati waktuku sendiri? Aku jauh-jauh kesini bukan untuk menjadi tukang foto dadakan!” ucapnya sedikit jengkel kearah seolhyun.

“thanks baby, and im sorry”ucapnya sedikit beraegyo, siapa saja yang melihatnya tentu tak tega untuk marah, begitu juga dengan Austin.

 

Semantara itu taeyeon kini mulai menyibukan diri untuk menerima panggilan video dari ponselnya yang tak lain dari kekasihnya yang jauh di Seoul.

“anyeong baby! Kamu lagi dimana?”suara di sebrang sana menyambutnya diiringi wajah cantik yang tampak kelelahan.

“hai baby, aku lagi di museum Manchester. Mengapa belum tidur? Ini sudah sangat larut disana, apa kamu sudah makan malam?” taeyeon menatap wajah kekasihnya dengan khawatir, sementara gadis di sebrang layar hanya tersenyum manis.

“aku sedang mengerjakan beberapa proyek baru. Kamu tahu? Bosku sangat galak, dan besok adalah dedlinenya! Aku tak mau melihat wajah seramnya untuk mengutukku dengan sumpah serapahnya. Btw aku sudah makan malam dengan teman kantor tadi, bagaimana denganmu?” taeyeon hanya tertawa melihat gadis nya bercerita dengan ekspresi yang menurutnya sangat menggemaskan, ingin rasanya ia segera mengecup bibir kekasihnya namun sayang, sekali lagi jarak seolah mempermainkan mereka.

“aku merindukanmu sayang. Jangan terlalu lelah,oke? Aku tak ingin melihatmu sakit dan menderita sendirian, karena aku terlalu jauh untuk bisa menjaga dan merawatmu. Tunggulah aku sebentar lagi” ucap Taeyeon mencoba meyakinkan, hingga mereka pun sama-sama tersenyum saling menatap cukup lama, tanpa sadar jika mereka hanya melihat dibalik layar persegi yang di genggam.

“unnie, ayoo makan siang!” teriak Seolhyun dari jauh yang tanpa sadar berhasil membawa mereka berdua kembali ke alam sadar masing-masing.

“ah sepertinya ada yang mencarimu. Lebih baik aku tidur, jangan lupa untuk makan yang banyak ne” ucap kekasihnya dengan penuh nada cemburu, namun wajahnya mencoba tersenyum menyembunyikan semuanya.

Taeyeon yang sadar akan nada kecemburuan itupun segera meyakinkan “kamu tahu kan? Aku hanya bisa jatuh cinta padamu meskipun banyak wanita yang lebih menarik disini, aku merindukanmu begitu banyak sayang, mimpikan aku, oke?”

Panggilan video pun berakhir dengan taeyeon yang hanya mampu tersenyum sedih, betapa dia sangat merindukan kekasih hatinya saat ini. Seolah jarak dan takdir begitu mempermainkan hatinya.

Namun ia tetap melanjutkan langkah mendekati teman-temannya untuk makan siang.

 

 

 

 

 

Sejak tiga hari mereka habiskan untuk jalan –jalan di kota Manchester, van milik Ben berhasil sampai di jalanan London. Satu persatu blok di lewati untuk mengantar para penumpang, hingga yang tersisa hanya seolhyun dan taeyeon yang akan segera turun di blok yang sama. Sebab gedung apartemen mereka bersebelahan, dan juga seolhyun yang ternyata satu sekolah dengan amber dulunya membuat mereka menjadi begitu dekat, saat tahu bahwa taeyeon bertetangga dengan gadis tampan tersebut.

 

 

 

 

Seolhyun menggandeng erat lengan taeyeon, dan melambaikan tangan pada van milik Ben yang sudah mulai menjauh. Di sepanjang jalan menuju gedung apartemen, ia tak berhenti mengoceh dengan penuh antusias tentang pengalaman liburan yang baru saja berlalu, sementara taeyeon hanya menanggapinya dengan sekenanya dan tersenyum simpul, sebab perasaan taeyeon sedikit merasa tak enak sekarang. Entah apa yang akan di laluinya nanti, dan dia sedikit merasakan firasat buruk. Namun dengan sedikit keyakinan dia mencoba untuk berfikir positif, dan melanjutkan langkah menuju lantai tiga, tempat apartementnya berada. Saat melewati pintu milik amber, perasaannya semakin tak menentu. Karena sangat jarang pintu kamarnya terkunci, itu berarti amber sedang pergi atau mungkin gadis tomboy itu sedang menghabiskan makanan di ruangannya!

 

 

 

 

 

 

Dengan bergegas ia melangkahkan kaki menuju kamarnya, tak lupa dengan seolhyun yang terus mengekori kemanapun ia pergi.

“amber! Apakah kamu di dalam?” teriaknya saat melihat pintu apartemenya tak terkunci. Namun tak ada jawaban dari gadis yang di tuju.

Taeyeon pun memutuskan untuk melangkah menuju kamarnya, dan begitu kaget karena bukan amber yang berada di kasurnya. Melainkan seorang gadis yang sangat ia kenal, sedang duduk di pinggir kasur sambil menatapnya dalam.

“tiffany?” ucap taeyeon gusar.

“hai” sapa gadis itu dengan datar.

 

 

 

TBC.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Just Love Me! 15

Title: Just love me!

Author: kimrungie

Genre: romance , yuri , school life , hurt.

Cast : Kim Taeyeon

Jessica Jung

Tiffany Hwang

Kwon Yuri

other cast: sunny lee

sooyoung choi

SELURUH ALUR CERITA INI MURNI HASIL PEMIKIRAN AUTHOR, JANGAN MENGCOPAS TANPA IJIN DAN SILAHKAN BERIKAN KOMENTAR JIKA SUKA”

 

~lets reading^^

 

Tiffany pov.

 

Tepat setelah punggung gadis yang sudah kurindukan selama berhari-hari lamanya, perlahan menghilang, mendadak pikiranku kosong tak tahu harus berbuat apa. Cukup lama aku merenungkan beberapa potongan kejadian yang baru saja berlalu, yang membuat bibirku kelu untuk mengucapkan kata rindu padanya.

Senyumnya yang selalu menjadi candu bagai pil ekstasi untuk ku nikmati sendiri tak juga terlihat sejak tadi, dia hanya mampu tersenyum simpul seolah dialah yang paling kuat disini. Sungguh aku membenci senyum mu taeyeon, aku bahkan membenci diriku yang tak bisa memelukmu untuk seorang diri saja.

Maafkan aku karena terlalu menyibukan diri dengan  teman-temanku, sehingga aku bisa melupakan rasa cemburu yang sedang menggerogoti hatiku, sebab aku terlalu kekanakan karena aku tak suka melihatmu dengan pria lain. Aku membenci fakta bahwa kau bisa tersenyum karena pria tampan itu datang ke acara kelulusanmu. Aku benci bahwa aku tidak bisa menjadi orang pertama yang mampu membuatmu terkesan saat itu, aku benci diriku begitu banyak karena telah menyakitimu.

Tapi aku tak tahu harus berbuat apa-apa untuk hubungan ini, karena ini pertama kalinya aku mengalami fase cemburu yang berlebihan pada orang yang kucinta.

“bukankah kamu merindukannya?”nickhun memandangku dengan sedikit prihatin. Setidaknya nickhun masih disini untuk menghiburku, dia memang sahabat terbaik untukku.

Aku sedikit memaksakan senyum untuknya, “seperti yang kuduga, dia sudah melupakanku nick..’’ nickhun hanya tertawa renyah.

“apa kamu bodoh steph? Dia hanya cemburu padaku”

Deg! Jantungku sedikit ingin copot saat mendengarnya, “bagaimana kamu tahu?”

“hei ayolaah! Siapa yang takan cemburu melihat kekasihnya jalan dengan pria lain. Apa kamu lupa pada gadis yang menangis dan mengadu saat melihat pacar pendeknya memeluk pria tampan?” kini ia menaikan sebelah alisnya menatapku, sedikit menyindir.

Geez .. dasar pria bodoh. Tapi bagaimana pun kata-kata yang di ucapkan nickhun ada benarnya. Mungkin taeyeon sedang cemburu padaku. Oh tuhan!! Apa yang sedang ku perbuat padanya!

“tapi apa yang harus kulakukan? Dia menatapku sangat dingin tadi, seolah aku lah hama yang harus dihindari” aku berucap sedih saat mengingatnya.

Nickhun kini sedikit memelukku, tangan kekarnya mengelus punggungku dengan lembut. “kamu perlu tahu steph, terkadang cinta tak cukup hanya di ucapkan dengan kata-kata manis saja, ada saatnya kita harus sedikit berjuang untuk orang yang kita cintai.” Kini ia menatapku dengan serius “aku tahu jika kamu bukan tipe gadis yang rela menjatuhkan lutut demi orang yang kamu suka, bahkan harga dirimu adalah segalanya kan? Haha” hei ayolah aku sedikit terhibur dengan leluconnya, dia memang pria yang lucu.

“tapi.. ini taeyeon. Dia berbeda dengan gadis dan pria murahan yang bisa kamu kencani dengan mudah. Bukankah dia cinta pertamamu? Aku rasa jika berusaha sedikit lagi, dia akan memaafkanmu” kini nickhun memberikan senyum tulusnya.

“aku ga yakin dia mau memaafkanku..“ ujarku lemah

“cobalah untuk membicarakan masalah kalian, bagaimana pun dia masih pacarmu. Kamu berhak mendapat penjelasan untuk masalah kemarin, karena sepertinya dirimu hanya salah paham. ”

Aku pun hanya mengangguk pasrah.

 

 

 

Malam ini hanya kuhabiskan dengan berbaring di kasur kamarku yang empuk, setelah seharian menghabiskan waktu dengan sahabat terbaikku nickhun, hingga bertemu dengan taeyeon. Sejak mendengarkan kata-kata yang di ucapkan nickhun tadi , membuatku semakin merasa bersalah pada taeyeon dan tak berani menunjukan wajahku lagi di hadapannya.

Aku terlalu egois karena mementingkan rasa cemburuku, tanpa tahu jika ia pasti terluka. Tanpa terasa air mataku sudah jatuh begitu saja membasahi pipi, menemaniku dalam sisa malam yang sepi tanpa hadirnya taeyeon. Maafkan aku Taetae, aku tak pantas menjadi kekasihmu, aku terlalu kekanakan karena tak menghubungimu . aku terlalu bodoh karena telah mempertaruhkan hubungan kita, mianhae sayang. Aku sangat menyesal.

Aku begitu banyak menangis malam ini, dan tanpa sadar akupun tertidur karena kelelahan.

 

*****

Malam itu terasa begitu melankolis bagi seorang kim taeyeon. Bagaimana tidak? Karena sejak 3 jam lalu berhasil menginjakan kaki dirumahnya, yang mampu di lakukannya hanya berdiri di balkon rumah sambil merenung, seolah seluruh pikirannya ikut melayang jauh bersama bintang-bintang dilangit. Tampaknya udara malam yang dingin pun  tak segera menggoyahkan tubuhnya untuk segera beranjak menghangatkan diri , mungkin butuh untuknya menghirup oksigen sebanyak-banyaknya agar otaknya kembali normal dan melupakan segala masalahnya.

“mengapa tidak memakai mantel,nak?” suara seseorang berhasil mengagetkannya, taeyeon sedikit berteriak sebagai reaksi pertama.

“omo, hampir saja jantungku!” namun ia jauh lebih kaget saat melihat siapa orang yang berhasil mengalihkan dunianya.

“a-appa, mengapa bi-bisa disini…?”

“aish.. apa tampang ku seperti malaikat maut bagimu?” tuan kim sedikit membuat tampilan jengkel di wajahnya, namun sama sekali tak berhasil sehingga membuat taeyeon tersenyum.

“jinjaa? jangan konyol appa! Wajahmu tak pernah cocok menunjukan ekspresi seperti itu”

Tuan kim tertawa, lalu mengeluarkan sebotol anggur dari balik mantel tebalnya. Taeyeon sedikit berkerut memandangnya.

“apa itu appa? Jangan bilang kau….?”

“sttt, diamlah kiddo. Umma mu pasti murka jika melihat aku menyimpan ini.” Tuan kim sedikit bergidik ngeri membayangkannya. “tapi kita bisa menikmatinya sedikit malam ini, mereka berdua sudah tidur” kekehnya sambil membuka tutup botol.

“appa sedang bercanda ya ?? Sejak kapan kamu suka minum, ini gila” taeyeon berucap heran, namun masih menerima gelas yang di berikan appanya.

“hei tenanglah nak, begini-begini juga appamu adalah peminum yang hebat hahaha, mau berbagi cerita denganku ?” tawar tuan kim diiringi senyuman hangat.

“ tentu saja appa, aku selalu menantikan saat-saat seperti ini“  jawab taeyeon dengan manta, mereka berdua tertawa renyah sambil meneguk anggur di temani dinginnya udara malam.

 

 

 

Taeyeon pov.

Pagi –pagi sekali aku harus bangun dari tidur yang nyenyak, karena aku sudah punya agenda untuk mengurus passport. Seperti yang sudah kalian duga bahwa aku akan segera meninggalkan negeri tercinta ini, menuju Negara asing yang aku sendiri juga tak begitu fasih dengan bahasanya. Entah itu Amerika atau Inggris, aku juga tak begitu peduli. Tapi aku rasa jepang lebih baik hehehe.

Beberapa hari yang lalu, aku dan appa sudah berunding meski sempat saling curhat tentang masalalu. Kami sepakat, bahwa aku akan tetap melanjutkan mimpiku untuk menjadi seorang penyanyi karena appa sejak dulu sangat suka memintaku untuk bernyanyi, dia bilang bakat terpendamku ini secara alami datang dari gen ibuku yang entah bagaimana kabarnya di negeri orang, tapi kuharap dia tetap bahagia dengan pria pilihannya.

Berbicara tentang ibu,umma,atau mommy, bahkan aku lupa bagaimana harus memanggilnya, aku masih tetap  saja merindukannya. Mungkin beberapa bulan atau tahun mendatang, aku akan mengunjunginya dan melakukan hal-hal yang sempat terbuang. Karena untuk sekarang aku hanya akan menganggap ibunya Irene sebagai ibu kandungku yang harus kujaga dan ku hormati, terima kasih umma karena tetap sabar dalam mengasuhku, aku begitu mencintaimu.

Tanpa sadar air mataku ingin mengalir dengan sendirinya saat mengingat semua rangkaian kejadian yang kusebut sebagai takdir,, bermain indah di hadapanku. Mau tak mau, siap tak siap aku harus menerimanya.

Bagaimanapun aku harus kuat, karena akulah satu-satunya harapan yang dimiliki appa. Aku harus mengikuti permintaannya untuk melanjutkan perusahaannya nanti , sebab appa akan segera menua, dan Irene masih butuh belajar dan bermain karena usianya masih terlalu muda untuk terjun langsung ke dunia bisnis yang membosankan ini.

Tapi aku tidak terlalu membenci masa depan yang sudah di rencanakan ini bahkan aku sedikit menyukainya. Karena appa hanya ingin agar aku membantunya untuk mengurus cabang baru di bidang musik, yang akan bekerja sama dengan Paman Lee, seorang pemusik terkenal di Korea Selatan yang tak lain adalah pamannya Sunny, sahabat terbaikku. Oleh karena itu lah, appa memintaku untuk belajar di luar negeri dan melanjutkan study ku tentang music dan aku di bebaskan untuk memilih sendiri di kampus mana aku akan belajar.

Seminggu lagi aku akan benar-benar pergi meninggalkan kota ini, meninggalkan semua kenangan yang pernah ku ukir bersama mereka yang telah masuk ke dalam hidupku, meninggalkan cinta yang telah tumbuh mekar bagai mawar putih yang tak sengaja ku temukan di semak belukar saat pertama kali menjatuhkan ponsel gadis cerewet yang baru saja kutemui. Dan, kisah cinta itu tidak benar-benar berakhir dengan indah, seindah kelopak bunga mawar dan pemilik sah nya.

Tiffany, gadis yang berhasil menguasai alur romansa SMA ku, serta mampu membuat gadis kuat sepertiku menangis dengan cengeng bak drama-drama membosankan di televisi, aku ingin mengucapkan terima kasih karena telah mau menerimaku sebagai kekasih mu. Terima kasih untuk mau memeluk pinggangku dengan erat saat di bonceng dengan motor matic biru ku , dan terima kasih karena mau mendengar cerita-cerita masalaluku serta dengan senang hati menemaniku nongkrong seharian di toko buku langganan yang secara tak langsung sudah menjadi markas kencan kita.

Berbicara tentang cinta, aku rasa sudah jelas kemana ini akan berakhir. Tiffany sudah bertemu dengan pria yang baik, dan aku sudah bertemu kembali dengan cinta dan kehangatan dari keluargaku. Dan ini saatnya untukku melangkah pergi untuk melanjutkan masa depan yang sempat tertunda, karena aku Kim Taeyeon si gadis bodoh dan pecundang akan membiarkan takdir mengatur semuanya.

 

“taeyeon ah, bangunlah nak” umma mencoba membangunkanku dari tidur nyenyak, dengan bersusah payah aku mencoba membuka mata dan mengembalikan seluruh kesadaranku.

“ne umma, aku sudah bangun” aku duduk di ranjang dan mencium pipinya, kulihat ia tersenyum menerima perlakuanku.

“aigoo putriku bau!” ia mengacak ramburku yang sedikit berantakan, dan beranjak untuk membuka jendela kamarku untuk membiarkan sinar mentari pagi ini masuk menghangatkan ruangan ini.

“mandilah nak dan segera turun kebawah, appa dan adikmu sudah menunggu sejak tadi”

Aku mengangguk sembari tersenyum melihat punggung umma yang segera menghilang dari balik pintu kamar.

Dengan bergegas aku pun menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

..

.

Kulihat appa dan Irene sedang menonton televisi di sofa, sedangkan umma masih menyiapkan sesuatu untuk sarapan kami di dapur. Karena tak ingin merusak kebahagiaan mereka akupun memutuskan untuk membantu umma saja.

“apa yang akan kita makan kali ini?” tanyaku sambil melihat sejumlah sayuran yang sedang di aduk kedalam wajan, umma masih saja setia memotong beberapa daging sambil melihatku. “sup daging dan beberapa kare kesukaanmu” jawabnya dengan bangga.

“jinja??? Ommo!! Bisakah aku mendapatkan rumput laut kering sebagai tambahannya?” tanyaku antusias.

“tentu saja nak, ambillah di kulkas biar aku menghangatkannya untukmu”

Dengan girang akupun mengikuti perintah umma, mengambil beberapa bungkus rumput laut.

“bisakah aku membantumu? Aku ingin belajar mandiri saat disana” umma kembali tersenyum dan mengangguk “dengan senang hati nak”

Kami pun melanjutkan acara memasak dengan penuh canda dan tawa.

 

 

..

 

Setelah sarapan bersama appa dan yang lainnya, aku memutuskan untuk mengunjungi beberapa teman lama, karena besok pagi aku sudah harus pergi menuju bandara, meninggalkan kota tercintaku ini.

Setelah menimang-nimang dan mengabari mereka, akhirnya sooyoung dan yuri akan berjanji untuk makan siang denganku di caffe langganan kami. Sedangkan Jessica sedang berhalangan hadir karena menghadiri acara penting dengan kedua orang tuanya karena Jessica benar-benar tertarik untuk melanjutkan usaha kelurganya di bidang fashion, karena mimpinya sejak dulu adalah menjadi seorang desainer terkenal. Tentu saja aku senang mendengarnya, karena aku juga ingin orang yang kusayangi bisa mencapai apa yang mereka inginkan. Tapi walaupun begitu, Jessica berjanji dan bersikeras untuk tetap mengantarku ke bandara besok.

Sunny Lee, gadis cebol bereysmile dan bersuara merdu juga berhalangan hadir, alasannya cukup klasik karena dia sedang berkencan dengan namja yang dia sukai di sekolah, yakni Kim myungso. Entah sejak kapan dia berhasil memikat hati pria yang umurnya jauh lebih muda dari kami, bahkan seperti yang kutau bahwa pianis kebanggaan sekolah ku itu berpribadi dingin kepada semua orang, mungkin saja karena cinta tidak memandang kepada siapa ia akan berlabuh, seolah membuktikan bahwa cinta selalu menang mengatasnamakan takdir.

 

Jujur saja aku sedikit cemburu dan sedih mengingat ini hari terakhir untukku berkumpul dan menghabiskan waktu bersama mereka, namun apa yang bisa ku harapkan karena masing-masing dari temanku juga memiliki kesibukan sendiri, dan aku tak boleh egois.

 

“sejak kapan melamun jadi kebiasaanmu unnie?” suara lembut gadis kecil di sampingku sedikit menyentakkan ku dari alam bawah sadar.

“dan sejak kapan kamu hobby menganggetkanku?, dasar gadis nakal” aku memeluknya untuk sedikit memberikan pelajaran dengan menggelitikinya, dia tertawa karena merasa kegelian, dan meminta agar aku melepaskannya.

“aish kau begitu jahat Kim Taeyeon! Aku akan mengaduhkan mu pada Appa!” ancamnya setelah berhasil terlepas dari perangkapku. Aigoo, gadis ini sangat menggemaskan.

“wah!! Kamu sudah berani mengancamku yaa. Awas saja saat aku pergi nanti kamu juga berani mengencani gadis beruang itu!”

“ap- apa maksud unnie, aku tak mengerti…” wajahnya merona malu namun masih ingin menyembunyikannya dariku, tapi aku tak sebodoh itu Irene ah.

“kang seulgi kan? Aku tau kamu menyimpan fotonya dikamarmu. Apa dia sangat keren sehingga adikku begitu menyukainya? Hmm bahkan dia jauh lebih muda darimu, apa jangan-jangan kamu sudah…..”godaku padanya, bahkan pipinya semakin merah sekarang.

“aisshh hentikan unnie!!! Dasar cabul!” ia memukulku lalu pergi berlari meninggalkan kamarku dan aku hanya tertawa terbahak-bahak melihatnya. Sungguh adikku sangat menggemaskan. Aku akan sangat merindukanmu, Irene ah.

 

 

..

 

“jinja? Kenapa begitu mendadak taengo!” sooyoung sedikit tercengang mendengar pengakuan keberangkatanku besok, seperti ingin memuntakan sebagian makanan yang baru saja di kunyahnya.

 

“hei tenanglah, telan dulu makananmu itu bodoh” ucap yuri sedikit jengah.

 

“tapi ini tak bisa di biarkan yul!! Bagaimana bisa kita baru saja bertemu setelah acara kelulusan , dan dia langsung meninggalkan kita besok. Ini gila!!” sooyoung tampak begitu kesal, dan yuri kembali diam. Sementara aku hanya mampu tertunduk tak berani menatap mereka.

 

“mianhe guys, tapi ini juga bukan keinginanku untuk pergi secepat ini. Aku hanya tak ingin mengecewakan appaku.. aku…”

 

“tak ingin mengecewakan appamu atau ingin segera menjauh dari tiffany taeng ah?” Tanya yuri yang langsung membuat jantungku berdetak lebih cepat.

 

“aku mengerti dengan berita keberangkatanmu yang tiba-tiba ini taeng ah, aku bisa memakluminya dan tentu saja aku akan selalu mendukung semua keputusanmu. Tapi ayolah, aku sudah mengenalmu selama bertahun-tahun.. apakah berlari menjauh selalu jadi senjata andalanmu menyelesaikan sebuah masalah?”ucapnya sambil menatapku serius, dan aku hanya bisa menghela nafas tak tau harus menjawab apa.

“setidaknya beri tahu dia tentang kepergianmu ini, dan selesaikan lah masalah kalian berdua. Aku percaya bahwa kamu bukan pecundang taeng ah” yuri menepuk pundakku dengan lembut sambil tersenyum.

 

“taengo! Aku masih marah padamu, ingatlah itu! Tapi aku rasa yuri benar. Tiffany tak sepenuhnya salah karena dia salah paham dan cemburu saat melihatmu dengan Jiwoong oppa saat itu. Maafkan aku karena tidak menceritakan ini kepadamu karena aku mengira kalian akan segera mengatasi masalah ini sendiri.” Sooyoung tersenyum lemah kearahku.

 

Aku sangat merasa bersalah karena kejadian ini, saat mengetahui betapa bodohnya aku yang tak peka dengan masalah yang terjadi. Aku yang selalu diam dan menerima segala sesuatu yang tengah terjadi terus saja menjadi pecundang. Tak mengherankan jika banyak kasih sayang yang sudah datang lantas pergi begitu saja mengejekku dengan kesedihan. Bahkan saat kemarin melihat kekasihku dengan pria lain, seharusnya akulah yang berhak marah dan menyeretnya untuk pulang bersamaku, bukan malah membiarkannya dan merelakannya meski hatiku sangat teriris- iris karena cemburu.

 

Tapi aku tak sepenuhnya salah, karena tiffany sudah menemukan pria lain. Dia sudah bahagia. Aku tak ingin merusak kebahagiannya, sebab dia sudah tak pernah lagi menghubungi ku sejak kejadian itu. Kita kehilangan kontak satu sama lain, seolah hubungan ini tak layak untuk di pertahankan. Jika dia mencintaiku, rasa cemburu tak lantas membuat jarak yang panjang diantara kita berdua, semuanya mungkin sudah jelas.

 

“gumawo guys, aku akan menerima saran kalian” aku mencoba tersenyum kearah mereka. “ayoo kita habiskan sisa hari ini untuk bersenang – senang” seru ku riang kearah mereka.

 

 

……

 

Pagi ini, Jessica sudah memarkirkan mobilnya di kediaman keluarga Kim untuk menjemput taeyeon. Karena sesuai janjinya, hari ini ia akan mengantarkan keberangkatan sahabat tercintanya ke bandara. Namun ia juga tak datang sendiri karena sunny juga ikut bersamanya. Yap, sunny merasa bersalah karena tak bisa ikut menghabiskan quality time dengan teman-teman lainnya bersama taeyeon.

 

Lagipula perpisahan mereka juga tak akan berlangsung lama, karena taeyeon hanya menghabiskan tiga tahun di London, dan setiap libur semester kuliah berakhir dia akan menghabiskan masa liburnya di Seoul. Mereka masih bisa saling mengunjungi satu dengan yang lainnya, sesuai janji mereka.

Ibu kim dan Irene menangis tersedu-sedu saat memeluk putri pertama di keluarga kim tersebut, sementara taeyeon hanya tersenyum sedih menanggapinya. Mungkin dia sedikit menahan ego untuk menangis di depan keluarganya. Sementara tuan kim juga berlinang air mata menatap putrinya, mereka sama-sama terlalu keras kepala untuk menangis.

 

“jangan lupa minum ekstrak jahe ini bersama teh mu saat kamu terserang flu. Dan jangan keluar rumah tanpa mantel tebal dan syal saat musim salju. Jangan mabuk – mabukan dengan pria asing, dan makanlah tepat waktu nak” ibu kim dengan telaten memberi nasihat kepada taeyeon, dan taeyeon hanya mengangguk mengiyakan karena ia tak lagi sanggup untuk menjawab. Sebab takut air matanya akan tumpah.

 

“bawa aku kesana saat liburan sekolah ku tiba unnie, jangan lupakan adik manismu ini hiks” ucap Irene saat memeluk kakaknya, dan taeyeon sedikit terkekeh “tentu saja Irene ah, belajar lah dengan baik ya! Dan jangan berkencan dengan seulgi dia masih terlalu kecil!” godanya , mereka semua tertawa saat melihat Irene yang merona meski masih menangis.

 

“jangan lupa untuk menghubungi appa saat sudah sampai disana, belajarlah dengan baik taeyeon ah appa yakin kamu akan menjadi pemusik handal di masa mendatang” tuan kim merengkuh tubuh putri nya dengan erat, tak lupa ia mencium kening putrinya tersebut, sementara taeyeon mengangguk sambil membalas pelukan ayahnya dengan haru.

 

Setelah selesai berpamitan dengan keluarga di rumah, taeyeon,Jessica dan Sunny pun meninggalkan rumah dengan mobil menuju bandara, karena satu jam lagi pesawat taeyeon akan terbang, ia harus buru-buru check in agar tidak ketinggalan.

 

Keluarganya sengaja tak ia ijinkan untuk mengantarnya ke bandara karena  taeyeon tak sanggup untuk meninggalkan mereka nantinya karena terlalu sedih untuk berpisah selama tiga tahun lamanya, oleh sebab itulah hanya kedua temannya itu yang ikut bersamanya.

 

Setelah sampai,  tiba saat nya untuk taeyeon berpamitan dengan kedua sahabat karibnya. Suasana pagi itupun begitu haru tatkala Jessica yang tak sanggup menahan tangisnya.

 

“kenapa kamu harus pergi secepat ini taeng ah, aku pasti akan sangat merindukanmu” taeyeon memeluknya dengan erat dan tersenyum sedih.

 

“jangan lupa untuk mengunjungi kami saat liburan taeng ah, dan jangan coba-coba untuk memutuskan komunikasi dengan kami ya! Aku tak akan segan membunuhmu jika itu terjadi” ancam sunny padanya sementara taeyeon tekekeh.

 

“baiklah guys. Aku harap kalian juga akan tetap menghubungi aku dan mengunjungiku disana, oke? Aku akan baik-baik saja, percayalah taengo orang yang kuat seperti baja” candanya pada mereka.

 

Sudah tiba saatnya untuk taeyeon meninggalkan mereka, ia pun memeluk kedua temannya sekali lagi. Dengan berat hati ia melangkahkan kaki menjauh, dan dengan sedikit menangis dalam kekecewaan ia berbisik

 

 

“anyeeong Seoul, selamat tinggal cintaku,Tiffany. Berbahagialah” langkahnya semakin menjauh memasuki pesawat.

 

 

 

end 😦 .

 

maafkan aku guys! aku juga baper sama jalan cerita ini, selamat malam 😦

 

Just love me! 14

Title: Just love me!

Author: kimrungie

Genre: romance , yuri , school life , hurt.

Cast : Kim Taeyeon

Jessica Jung

Tiffany Hwang

Kwon Yuri

other cast: sunny lee

sooyoung choi

SELURUH ALUR CERITA INI MURNI HASIL PEMIKIRAN AUTHOR, JANGAN MENGCOPAS TANPA IJIN DAN SILAHKAN BERIKAN KOMENTAR JIKA SUKA”

 

note:  happy taeny day untuk para LS !!! -3-

 

 

happy reading ^o^

 

Plak!

Taeyeon memblalakan matanya saat merasakan rasa nyeri yang membakar wajah tirusnya, senyumnya yang sebelumnya mengembang indah kini pun memudar.

Tuan kim menatapnya dingin seolah tak merasa bersalah atas apa yang sudah ia lakukan kepada putrinya “dari mana saja kau semalaman? Apa yang ada di kepalamu hanya mabuk-mabukan seperti anak tak punya tujuan hidup?!” taeyeon yang mendengarnya pun sedikit mengalami pergejolakan emosi, “apa pedulimu appa,tch” begitu sanggahnya, meski dia sadar jika telah mabuk di rumah yuri. tapi ia tetap tak suka atas perkataan appanya yang seenaknya menuduhnya begitu saja

‘’tak bisakah sedikit saja kau berlaku sopan pada appamu? Lihathah betapa angkuhnya dirimu saat menjawab pertanyaanku ” tuan kim sedikit menahan napas melihat perilaku putrinya yang semakin hari semakin memburuk.

Tidak, mungkin ini juga salahnya karena jarang meluangkan waktu untuk keluarga kecilnya, khususnya taeyeon yang sangat rentan sejak istri pertamanya memutuskan untuk pergi meninggalkann mereka berdua. Namun disisi lain ia tak bisa berbuat apa-apa selain memfokuskan seluruh waktunya untuk bisnis yang sudah ia bangun mati-matian sejak dulu.

Bukan berarti ia menelantarkan taeyeon demi bisnis sialan tersebut, ia juga terluka atas semua kejadian yang menimpa keluarga kecilnya yang hangat dan harmonis, ia benci jika harus mengingat kejadian yang mengharuskannya memimpin perusahaan peninggalan mendiang ayahnya yang sedang terpuruk karena hutang. Sebagai satu-satunya pewaris tunggal di keluarga Kim, ia pun harus memikul tanggung jawab besar itu seorang diri demi masa depan anak-anaknya kelak.

‘’maafkan aku appa, tapi aku bukanlah anak penurut seperti Irene yang akan selalu menuruti segala keinginanmu. Bahkan kau tega membiarkannya ikut campur tangan dalam perusahaanmu, aku prihatin dengan masa mudanya.’’ Ia menarik nafas sebelum menjawab kembali “ kau bahkan lebih mementingkan perusahaan daripada keluargamu , lihatlah! Ummaku pergi karenamu.aku bahkan tak tahu dimana letak kebahagianku ”

Taeyeon benar-benar menumpahkan seluruh isi perutnya tanpa peduli dengan siapa ia sedang berbicara sekarang, mungkin ia sudah terlanjur kecewa dengan semua yang terjadi, baik itu dari Appanya,Umma nya bahkan Tiffany.

“jagalah ucapanmu nak, atau kau akan menyesal nantinya!” ancam tuan kim padanya, namun taeyeon kembali menunjukan seringai kecewanya.

“atau apa? Kau akan menamparku lagi? Atau bahkan mengusirku dari sini? Tch, aku bahkan sudah lama menantikan hal itu terjadi”

Tuan kim sangat kaget mendengar semua yang di ucapkan oleh taeyeon, terlebih lagi perkataan putrinya sudah melewati batas kesabarannya sebagai seorang ayah. Ia sudah tidak dapat menahan seluruh  emosinya yang ingin naik kepermukaan, namun seseorang berhasil menenangkannya dengan cara memegang jemari tangannya yang kasar, dia Kim Irene.

“hentikan appa.. maafkan unnie yang sedang emosi, aku tau appa dapat mengatasinya tanpa kekerasan..” ucapnya berusaha selembut mungkin , tetapi tuan kim masih bisa melihat gejolak ketakutan di mata putri nya.

Tuan kim sedikit mengangguk menatap Irene yang sedang berharap agar dirinya tidak lagi marah kepada taeyeon. Mungkin semua yang di katakana mantan istrinya benar saat itu jika dia hanya suami yang gagal, ia benar-benar gagal mempertahankan rumah tangganya dulu, dan ia gagal menjadi ayah yang baik untuk putri yang sangat ia cintai dengan sepenuh hati. Meski jauh di lubuk hatinya sangat merindukan senyuman taeyeon yang sangat mirip dengan mantan istrinya, yang tak lain adalah cinta pertamanya, namun kekecewaanya  seolah memakan seluruh kerinduan tersebut.

Ia segera beranjak dari tempat tersebut setelah mengucapkan beberapa kata yang berhasil menohok ego taeyeon

“maafkan appa karena gagal mempertahankan keluarga kita dulu nak, seharusnya aku bisa berusaha lebih keras menahan ibumu untuk lebih mencintaiku dengan tulus. Atau setidaknya aku bisa membunuh mantan pacarnya yang sudah berani masuk kedalam kehidupan kita sehingga ibumu tidak benar-benar pergi meninggalkan kita dengan menyeret jiwoong bersamanya. Tapi aku tak bisa memaksakan egoku karena dia tak lebih mencintaiku sebagai seorang sahabat masa kecilnya, dan aku harus benar-benar berbesar hati saat itu untuk merelakan cinta pertamaku yang ingin mempertahankan cinta sejatinya’’

tuan kim sedikit merenung dengan matanya yang sedikit menunjukan kesedihan “Satu yang perlu kamu ketahui jika aku tak pernah memaksa Irene untuk mengurus perusahaan, aku juga khawatir atas tumbuh kembangnya. Tapi dia selalu memohon kepadaku untuk bisa menggantikan posisimu nanti karena ia peduli dengan mimpimu. Akulah orang yang patut disalahkan atas semua ini, maafkan aku nak. dan selamat atas nilai terbaik dari kelulusanmu”

Deg! Jantung taeyeon seakan ingin copot dari tempat seharusnya.

Tuan kim menepuk pundak taeyeon pelan sebelum benar-benar meninggalkanya di ruangan tersebut dalam keadaan yang memilukan.

Yah .. memang ini yang di inginkan taeyeon sejak lama, mendengar pengakuan maaf dari appanya. Seharusnya ia senang mendengarkan pujian dari appanya atas kelulusannya kemarin, bukankah itu yang dia inginkan selama ini? Mendapatkan sedikit perhatian appanya kembali seperti dulu, dimana hanya dia dan jiwoong yang berbahagia atas kehangatan seorang Kim Taehyung, bukan berbagi dengan Irene dan ibunya tirinya yang mendadak datang kedalam kehidupannya bak Cinderella di negeri dongeng. Tampaknya Ia terlalu melupakan kenyataan jika selama ini seluruh harapannya hanya omong kosong belaka. Ibunya tidak akan pernah kembali, Ya, begitulah kenyataan yang harus di terimanya bak pil pahit. dan Irene bukanlah orang lain atau seorang adik tiri yang kejam mengambil kebahagian dalam kehidupan nya. Ia tidak menyadari bahwa Irene berhak atas kebagianya karena Irene juga darah daging ayahnya yang sah! Dan juga Irene berhak atas kehangatan yang seharusnya ia berikan sebagai seorang kakak, taeyeon terlalu buta selama ini atas kesedihan yang menyelimuti hatinya yang tanpa dirinya sadari jika Irene ikut terseret kedalamnya.

Namun penyesalanya kian melarut semakin dalam bagai air garam yang sengaja disiram pada sebuah luka saat tubuh Irene memeluknya dengan penuh kehati-hatian, seolah taeyeon adalah sosok yang begitu renta untuk di sentuh. Di saat tangan Irene dengan lembut dan sedikit kaku mengelus pundak gadis yang lebih tua, saat itu lah taeyeon tahu jika ia tidak benar-benar sendiri selama ini, ia merindukan kehangatan  ini dan sangat menyukainya.

Ia benar-benar sadar sekarang bahwa appanya benar-benar menyayanginya saat ia mendengar kata-kata gadis kecil tersebut “appa tidak benar-benar marah padamu unnie, dia terlalu khawatir saat kamu tidak ada dirumah tadi malam saat kami telah merencanakan pesta kecil-kecilan atas kelulusanmu. Aku rasa ia tak bisa mengontrol emosinya saat mencium bau alcohol pada pakaianmu, kau tahu kan jika apa sangat benci melihat anak-anaknya pergi ke bar? Ia hanya tak ingin kamu di manfaatkan oleh orang-orang tak dikenal karena status keluarga kita. Maafkanlah sikap kasarnya tadi unnie” dan tentu saja air mata nya tak dapat terbendung lagi bahkan ia sedikit terisak di pelukan Irene.

Taeyeon sangat sedih sekarang, jauh lebih sedih saat ia melihat Jessica yang mencium yuri, atau saat ia sedang merindukan tiffany yang tak berada di sisinya. Bagaimana pun keluarganya adalah segalanya, ia begitu menyesal karena menyia-nyiakan seluruh kesempatan untuk membuat keluarganya hangat seperti dulu, dimana nyonya kim sangat menyayanginya seperti putri kandungnya sendiri atau disaat Irene kecil nan polos yang senang bergelanyut manja padanya. Bahkan lupa bahwa ia merindukan senyuman appa saat melangkahkan kaki kedalam rumah besar mereka membawa pizza ukuran besar di kedua tangannya, yang sempat menjadi makanan favorit untuk taeyeon bagi bersama Irene dan nyonya kim saat mereka akan nonton film animasi di ruang keluarga mereka. Sudah lama sekali taeyeon melihat senyuman tulus  appanya semenjak kepergian umma dulu meninggalkan mereka. Tidak, ini bukan sepenuhnya salah appa, nyonya kim yang merebut cinta appanya kembali, atau kesalahan Irene yang datang kedunia dengan cinta itu. Ini adalah salah nya yang egois karena terlalu larut bersama kesedihan yang hanya ia simpan sendiri di lubuk hatinya.

“aku sangat menyesal Irene, maaafkan aku sudah menjadi kakak yang bodoh untukmu. A- aku salah menyangka jika ia sudah tak peduli padaku.selama ini, aku terlalu egois pada kalian… maafkan aku, tak seharunya aku membentaknya tadi’’

Irene mengeratkan pelukannya pada taeyeon “sttt..kajimaa unnie, aku selalu disini untukmu, tenanglah..”bisiknya pada taeyeon dengan sangat tulus, dan taeyeon dapat merasakan seluruhnya,

Sungguh taeyeon ingin mengulang seluruh waktu sekarang juga.

.

.

.

.

.

.

Beberapa hari setelahnya.

 

Keadaan seluruhnya kembali normal seperti biasanya. Taeyeon lebih sering menyempatkan diri untuk sekedar ikut makan malam bersama mereka, ia lebih jauh menjadi pendiam sejak kejadian kemarin, mungkin rasa bersalah sedikit banyak menghantuinya untuk tidak menuntut keadaan menjadi membaik. Setidaknya ia bersyukur melihat appanya masih mau menyempatkan pulang sebelum makan malam dengan keluarga barunya. Yap, taeyeon lebih menghargai kehadiran Irene dan nyonya kim sejak kemarin, bahkan ia mulai kembali memanggil nyonya kim dengan sebutan ‘umma’ tidak seperti dulu hanya memanggil nya ‘ibu kim’.

Begitu juga dengan hubungannya dengan Irene yang kian hari semakin membaik, karena ia sudah bertekad untuk menganggap dan menyayangi gadis itu dengan sepenuh hatinya tanpa terkecuali. Ia jauh lebih sering menghabiskan waktu liburnya dengan mengantar dan menjemput Irene kesekolah bahkan menghabiskan sisa malamnya dengan menonton beberapa drama bersama adiknya dari pada dengan tiffany.  Berbicara tentang tiffany, taeyeon tidak tahu kemana perginya gadis itu, sejak hari kelulusannya berlangsung tiffany pun bak hilang di telan bumi. Mungkin itu terdengar kasar, namun seperti itu lah yang dirasakannya bahwa gadis pujaannya telah mengabaikannya tanpa memberi kabar.

Terhitung sudah seminggu sejak mereka kehilangan kontak komunikasi satu dengan yang lain , dan sepertinya tidak juga ada yang ingin memperjuangkan hubungan yang sudah terjalin hampir menginjak angka ke 4 bulan tersebut. baik tiffany dan taeyeon seolah enggan bertanya ‘mengapa kau mengabaikanku?’ atau ‘mengapa kau tidak memperjuangkanku?’.  Seolah hanya rindu lah yang mampu memperbaiki hubungan mereka dengan sendiri lah.

.

.

.

.

.

.

.

Di sore yang cukup terik ini, taeyeon segera bersiap-siap untuk berpakaian karena ia punya janji untuk pergi ke mall bersama adik manisnya. Ia hanya mengenakan kemeja biru muda favoritnya yang ia dapatkan 2 tahun lalu dari Jessica sebagai hadiah ulang tahunnya  tak lupa dengan jeans dan sneaker. Mengingat nama Jessica sedikit membuat bibirnya ikut tersenyum, mungkin saja ia sedikit merindukannya. Tapi taeyeon  percaya bahwa yuri bisa merawat Jessica jauh lebih baik dari yang bisa ia lakukan selama ini, ia juga percaya jika yuri lah orang yang tepat untuk mengisi hati sahabatnya tersebut.

Seseorang berhasil mengalihkan perhatiannya “kurasa melamun sudah jadi kegiatan rutinmu unnie, apa yang menganggumu akhir-akhir ini?” Irene menatapnya dengan penuh khawatir.

Taeyeon segera menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum menatap wajah adiknya yang menurutnya sangat imut untuk di lewatkan. “aniyo rene ah, aku sedikit merindukan teman-temanku. Tingkah konyol mereka membuatku sulit melupakan masa Sma hahaha”

Irene hanya mengangguk sambil ikut tersenyum. “baiklah, mengapa unnie tidak mengajak mereka nongkrong bersama kita? Aku rasa sedikit menyenangkan”

“ah itu ide yang bagus. Tapi tidak untuk hari ini karena aku ingin menghabiskan waktu seharian penuh bersama adik kecilku kekeke” taeyeon mencubit kedua pipi Irene dengan gemas dan tentu saja membuat Irene tertawa dan sedikit merona.

“aish.. aku bukan anak kecil lagi unnie! Ayo pergi sekarang”

Taeyeon kembali tertawa dan mengangguk “baiklah tuan putri”.

 

 

 

Taeyeon mengenggam tangan Irene menuju halaman rumah. Awalnya Irene mengira mereka akan pergi menggunakan mobil, dan dugaanya sepenuhnya salah karena yang ia lihat hanya sebuah skuter matic bewarna biru, kendaraan favorit taeyeon. Sedikit mengelitik pertanyaan di dalam perutnya ‘kenapa?’ taeyeon begitu mencintai motor matic ini dibandingkan mobil mewah yang di berikan appa, bahkan mungkin taeyeon bisa meminta untuk di belikan motor sport keluaran terbaru jika dia mau. Dan sepertinya gadis yang lebih tua tersebut dapat membaca pikirannya dengan mudah.

“ini kubeli dengan hasil tabunganku sendiri.kamu tahu?saat pertama kali aku melihatnya, seperti cinta pertama yang tak akan pernah tergantikan. Ayoo naik!” taeyeon tersenyum dengan seringai bodohnya dan Irene sedikit membenci seringai itu.

“bukanya aku meremehkan motor jelek mu ini unnie, tapi ayolah cuaca sekarang sedikit terik. Apa kamu tega membiarkanku tersengat matahari?” Irene sedikit cemberut dan ntah mengapa taeyeon menyukai ekspresi adiknya yang menurutnya semakin hari semakin imut.

“tch, tak kusangka adikku orang yang manja. Kamu bahkan ga bakalan hitam kalo berjemur di pantai berbulan- bulan. Ayoo naik atau aku tinggal!” ancam taeyeon padanya, dan dengan bodohnya Irene ikut mengikuti perintahnya. Ia duduk di belakang taeyeon dengan wajah yang cemberut di buat-buat. “pakai ini untuk melindungi rambut indahmu, aku tak mau melihatnya seperti singa sampai disana kekeke”

“serius unnie? Err.. sejak kapan kamu suka warna pink?” Irene menerima helm pink yang seharusnya di pakai tiffany, pertanyaanya sedikit membuat taeyeon tertegun namun ia kembali tersenyum.

“jika kamu jatuh cinta, kamu pasti juga melakukannya”

Kini Irene lah yang ikut tertegun.

.

.

 

.

 

.

 

.Setelah seharian penuh menghabiskan jalan-jalan di mall bersama taeyeon, bibir Irene pun tak bisa berhenti tersenyum. Sangat banyak sifat taeyeon yang tidak dia liat sejak dulu kini pun mengalir kepermukaan, dan hal tersebut selalu berhasil membuat Irene tertegun.

Salah satunya saat mereka menonton film di bioskop dengan satu popcorn ukuran sangat besar, taeyeon tak pernah berhenti mengunyah popcorn saat film berlangsung. Bahkan! Dia tertawa terbahak-bahak dengan mulut yang di  penuhi popcorn saat film  menunjukan adegan komedinya. Sungguh ironis saat ia harus buru-buru memberi kakaknya minumannya karena tersedak, tapi ia begitu menikmatinya.

Apalagi saat mereka pergi berbelanja dan berakhir di game center. Tanpa sadar taeyeon menunjukan sisi kekanakannya pada Irene saat ia merengek sedih karena tidak juga mampu mengeluarkan boneka dari dalam box. Ayolah itu hanya game bodoh, pikirnya. Namun taeyeon tetaplah taeyeon karena ia masih saja bersih keras ingin mendapatkan satu boneka kacang polong yang ia yakin bisa membelinya sendiri tanpa harus bersusah payah. Hingga Irene juga harus berjuang demi mendapatkan nya demi kakak tercintanya itu, dan dengan sedikit usaha serta pengorbanan uang ke lima kalinya akhirnya mereka bisa mendapatkannya. “yeay!! Kamu berhasil Irene ah!! Lihat kamu berhasil mendapatkan bayi lucu ini, matanya sangat lucu!!’’ teriak taeyeon penuh kegirangan sambil memeluknya. Bahkan sebagian pengunjung menatap mereka dengan jengkel.

“yap kita berhasil unnie, tapi ayolah itu bukan bayi! Hanya kacang yang punya bola mata” sergahnya sedikit malu saat orang-orang menatap kearahnya.

“tetap saja dia imut” taeyeon memeluk boneka itu dan tanpa henti menciumnya.

Irene hanya tertawa menatap tingkah bodoh kakaknya.

 

Setelah lelah bermain mereka memutuskan untuk makan di restaurant di mall tersebut sesuai yang diinginkan Irene. Ia hanya mengikuti langkah adiknya kemana pun ia pergi, secara tidak langsung mereka sedang melakukan kencan pribadi dimana seluruh waktu hanya ada Irene dan taeyeon, tidak dengan gadget maupun kepentingan lainnya. Tentu saja taeyeon menyetujuinya bagaimana pun ia senang bisa membuat adik manisnya tersenyum.

Mereka memasuki salah satu restaurant jepang, dan saat ia mengedarkan pandangan keseluruh ruangan untuk mencari meja yang kosong, saat itu juga hatinya berdetak lebih dari biasanya. Ia menemukan punggung gadis yang ia rindukan akhir-akhir ini, dimana ia selalu bertanya-tanya kemana perginya gadis yang selalu hadir dalam setiap mimpinya. Tiffany sedang duduk membelakanginya bersama seorang pria yang tampak familiar, saat taeyeon hendak mencoba mengingat nama pria itu namun namanya sudah lebih dulu di panggil olehnya. “taaeyeon ssi!! Kemari lah”

 

Dengan sedikit menelan ludah taeyeon melangkahkan kakinya menuju meja tersebut, terlebih lagi saat tanpa sadar ia melihat punggung tiffany kaget bak tersengat listrik saat mendengar pria yang bersamanya menyebutkan nama taeyeon .

“apa dia temanmu ?” Irene bertanya namun taeyeon seperti enggan menjawab “mungkin saja” sambil mengedihkan bahu.

“hai taeyeon ssi, bagaimana kabarmu” sapa pria berwajah manis itu. “dan siapa gadis manis yang datang bersamamu ini?” ia tersenyum manis saat memandang Irene.

“anyeeong oppa??, aku adiknya taeyeon unnie. Irene imnida” balasnya dengan ramah.

“aww kamu sungguh manis, kenalkan aku nickhun dan ini tiffany yang duduk bersamaku” Irene sedikit mengangguk dan kaget bersamaan saat menyadari jika tiffany lah yang duduk dengan nickhun sejak tadi.

Taeyeon tidak terlalu mendengarkan ucapan nickun, seperti yang baru saja dia ketahui namanya saat berkenalan dengan Irene. Karena seluruh perhatiannya hanya tertuju kepada tiffany.

 

“haii tiffany unnie!! Sudah lama sejak pertama kali kita bertemu ya” ia memeluk tiffany dengan hangat begitu juga dengan tiffany yang membalas pelukannya dengan baik meski sedikit kaget dengan kehadiran Irene bersama dengan taeyeon, orang yang berhasil memporakporandakan hatinya sejak kemarin.

“begitulah Irene ah, dan hai.. taeyeon ah” sapanya ragu.

Taeyeon hanya mampu memberikan senyum palsu, dan tidak menjawab sapaan tiffany karena mendadak tenggorokannya terasa kering untuk mengucap sepatah katapun. Kedekatan tiffany dengan nickhun, serta menghilangnya tiffany selama seminggu ini begitu menyakitinya dan tanpa sadar ia terbakar oleh rasa cemburu saat melihat orang yang dirindukan dengan lelaki lain.

“sebaiknya kalian berdua bergabunglah bersama kami, meja ini terlalu besar untuk kami berdua” ucap nickhun tanpa rasa bersalah, dan Irene hanya mengangguk mengiyakan karena ia berfikir bahwa taeyeon mungkin merindukan kehangatan bersama teman-temannya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, taeyeon hanya diam sejak pertama kali mendaratkan pantatnya di kursi ini.

“unnie mau pesan apa?” Tanya Irene padanya, “apapun itu rene ah” balasnya sedikit tersenyum pada adiknya, bagaimana pun ia tak mau mengecewakan Irene.

“baiklah unnie”

Mereka pun makan dalam keadaan normal, tak ada yang mencoba bertanya atau pun membuka suara, kecuali nickhun yang mencoba mengajak ngobrol Irene dan tiffany, namun tiffany hanya menjawab dengan sekedarnya dan menghindari tatapan dingin dari taeyeon padanya sebisa yang ia lakukan.

“aigoo aigoo kamu sangat lucu Irene ah, aku rasa kamu bakalan popular saat SMA nantinya. Kau tahu? Taeyeon juga popular di antara siswi lainnya, apalagi saat ia bersama Jessica,dan sooyoung. Bahkan aku pernah mendengar jika taeyeon pernah berteman dengan si kapten basket kwon yuri. bukankah begitu taeyeon ssi?”

Taeyeon memutarkan matanya heran mendengar pengakuan nickun, seperti tukang gossip murahan pada umumnya,pikirnya.”kamu sedikit cerewet untuk ukuran cowok nickhun ssi. well,aku memang masih bersahabat dengan yuri” nickhun hanya tertawa mendengar candaan taeyeon, tanpa sadar bahwa taeyeon semakin tak suka melihatnya.

“oh iyaa, bukankah unnie ada hubungan spesial dengan kakakku? Atau aku memang salah menangkap kedekatan kalian waktu itu ya?” Tanya Irene sedikit penasaran kepada tiffany, sementara tiffany yang sedang mengunyah makanan dengan keheninggan sejak tadi mendadak tersedak karena belum siap menjawab pertanyaan itu.

Nickhun dengan cekatan memberikannya minum dan tiffany merasa beruntung bahwa ini bukan akhir hidupnya, setidaknya ia masih bisa bernafas lega sebelum mendengar jawaban dari seseorang.

“kami hanya teman dekat, setidaknya mungkin begitulah yang ingin di jawab tiffany kepadamu. Sebaiknya jangan suka bertanya pada orang yang sedang makan, dasar kau anak nakal! ” taeyeon memberikan tersenyum pada Irene sambil menjitak dahi adiknya dengan sayang, namun tiffany sadar apa arti dari senyuman itu. Melihatnya membuat hati tiffany menjadi sakit.

“baiklah sudah sebaiknya kami pulang, aku rasa Irene perlu istirahat. Besok dia harus sekolah” ucap taeyeon sambil berdiri, “terimakasih atas makan malam yang menyenangkan nickhun ssi, dan tolong antar kan tiffany pulang dengan aman” nickhun balas tersenyum sambil mengangguk.

“ah iya, biarkan aku membayar semuanya, anggap saja aku sedang merayakan hari kelulusan kita kemarin hehe. Kami pamit dulu ya, anyeong” ucap taeyeon sambil membungkuk lalu pergi menyeret Irene menuju kasir.

 

Sementara tiffany hanya mampu tertegun dan tersenyum miris melihat punggung orang yang ia cintai menjauh dari nya.

‘mianhe telah banyak menyakitimu taetae’ bisiknya dalam hati.

 

 

 

tbc.

Just love me! 13

 

Title: Just love me!

Author: kimrungie

Genre: romance , yuri , school life , hurt.

Cast : Kim Taeyeon

Jessica Jung

Tiffany Hwang

Kwon Yuri

other cast: sunny lee

sooyoung choi

SELURUH ALUR CERITA INI MURNI HASIL PEMIKIRAN AUTHOR, JANGAN MENGCOPAS TANPA IJIN DAN SILAHKAN BERIKAN KOMENTAR JIKA SUKA”

 

note: sepertinya cerita ini akan segera berakhir dengan beberapa tembakan terakhir, tapi aku masih buntu dengan ending nih huhu. bagaimana menurut kalian? ending yang happy atau sad? hahaaha kita tunggu saja ya!

 

 

happy reading ^o^

 

 

 

 

Sepulang sekolah mereka memutuskan untuk nongkrong bersama di café langganan mereka. Kali ini semuanya turut hadir bersama-sama begitu juga dengan Jessica dan yuri yang sudah berbaikan.  Semenjak kejadian dua minggu terakhir yang mampu menghebohkan seisi sekolah, makin hari dua sejoli ini pun semakin lengket bagai kertas dan lem yang merekat dan sulit dipisahkan. Begitu juga dengan Tiffany dan Taeyeon, tak jarang orang-orang berdecak iri saat melihat kedekatan mereka yang semakin intim di tiap harinya, meski pasangan ini tak mengungkapkan hubungan mereka pada semua orang, tetap saja orang-orang bisa merasakan api asmara diantara keduanya.

 

“wah kalian berempat semakin mesra, membuatku iri saja” runtuk sooyoung sedih.

Jessica dan yuri masih saja sibuk dengan dunianya sendiri, seolah tak peduli dengan keberadaan mereka yang sedari tadi bergidik ngeri menyaksikan adegan mesum yang dilakukan oleh dua orang tak tau tempat itu.

“oh god, aku ingin mual sekarang”sindir sunny dengan wajah jengkelnya.

“dasar iri! sana cari pacar dong biar bisa mesra-mesraan begini kekeke” ucap yuri, sunny hanya memberikan tatapan jengahnya.

“taetae ah aku mau coba punyamu, boleh? ” ucap tiffany manja pada makanan yang sedang di lahap kekasih cebolnya itu, “tentu saja boleh sayang, bahkan jika kamu meminta nyawaku sekalipun, aku mau memberikannya dengan suka rela” jawab taeyeon sambil menyuapkan makanan tersebut pada gadis kesayangannya.

“awww… kamu sudah ketularan si player hitam ini ya hahaha” goda sooyoung, sementara tiffany bersemu malu.

“yah tiang  listrik!! Jaga mulut besarmu itu, jangan menuduhku sembarangan deh” taeyeon melotot kearah sooyoung namun sooyoung hanya memeletkan lidahnya.

Mereka semua tertawa melihat keduanya yang selalu saja bertengkar, begitu juga dengan pengunjung café lainnya yang ikut memperhatikan keributan yang diciptakan mereka.

 

 

Taeyeon memberhentikan motor matic birunya di halaman rumah  tiffany, ia baru saja mengantar gadis yang ia cintai pulang untuk memastikan bahwa gadis tersebut akan selalu selamat sampai tujuan dengan aman. Sepertinya aktifitas sederhana seperti ini akan terus berlangsung selama hubungan mereka masih terjalin, seolah taeyeon tidak rela untuk melepas gadis cheerleadersnya itu di bawa oleh motor lain. Sudah sebulan lebih sejak mereka resmi menjalin hubungan, keduanya masih saja merahasiakan status mereka pada teman – teman lainnya, kecuali teman terdekatnya. Sebenarnya taeyeon tak pernah merasa keberatan atas hubungan mereka yang di ketauhi public, tapi ia juga tak ingin tiffany terkena masalah dengan karir cheers nya di sekolah. Mengingat hanya menunggu hitungan hari saja untuk mereka lulus dari masa SMA, Taeyeon akan terus bersabar akan hal itu karena menurutnya rasa cintanya jauh lebih besar dari pada status yang sedang mereka jalani.

Tiffany menyerahkan helm kesayangannya pada gadis yang masih duduk diatas motor tersebut, sang gadis pun menerima helm tersebut dengan senang hati. Ia masih saja tersenyum memandang kearah gadis di di depannya, sementara gadis yang di pandang merasa heran.

“waeyo sayang? Ada yang salah denganku?” ucapnya bingung.

“ani.. hanya saja kamu melupakan sesuatu”

Tiffany sedikit berfikir , dahinya sampai mengerut dengan kedua alis yang semakin menyatu. Namun tak butuh waktu lama untuk ia paham apa yang di inginkan pacar nya tersebut, dengan cepat ia mendekat pada tubuh gadis itu dan mencium nya dengan lembut. Kali ini lebih spesial, karena Tiffany memberikan kecupan sederhana itu di bibir, bukan di pipi yang seperti biasa ia lakukan.

Tentu saja taeyeon nyengir dengan tampang bodohnya, tanpa sadar ia memegang bibirnya dengan kedua tangannya “wow! Kamu menakjubkan” ocehnya tak karuan, sementara tiffany hanya tertawa melihat tingkah dork kekasihnya.

“kamu ga mampir dulu?”

“mian sayang, tapi aku ada janji dengan seseorang nanti sore. Besok aku akan menjemputmu seperti biasa” taeyeon mencoba mengatakan rasa bersalahnya.

“dengan siapa? Kamu beneran ga kena virus yuri kan?” tiffany menatapnya dengan penuh selidik.

Sementara taeyeon hanya menggeleng dan tersenyum “percaya lah padaku, aku hanya akan jatuh cinta padamu.” Jawabnya tegas. Mau tak mau tiffany ikut tersenyum padanya dan mengangguk.

“kalau begitu aku pergi dulu ne, nanti aku telepon kamu”

“aye kapten! Hati – hati dijalan sayang”

Taeyeon mengangguk dan segera melajukan motor nya menjauh.

 

Tiffany segera merebahkan dirinya di kasur. Matanya terpejam sambil mengingat semua kejadian yang sudah ia lalui hari ini. Dengan segera ia menggelengkan kepalanya karena sudah merasa curiga pada kekasih pendeknya, padahal ia sudah berjanji untuk menjadi orang pertama yang mempercayai taeyeon, tapi malah dirinya sendiri yang melanggar janji tersebut. “mungkin aku butuh mandi air dingin” begitu pikirnya.

 

 

 

seminggu kemudian.

 

Seluruh siswa di SM INTERNASIONAL HIGHSCHOOL hari ini berkumpul di aula sekolah. Begitu juga dengan seluruh anggota keluarga dari pada siswa yang turut hadir menyaksikan hari paling bahagia untuk putra putri mereka yang akan segera memasuki jenjang perguruan tinggi. Suasana di aula yang sangat luas itu pun cukup padat , karena seluruh tamu undangan sudah memenuhi kursi masing-masing. Tak jauh berbeda dengan orang tua dari Jessica,yuri,Sunny dan Sooyoung yang duduk berdampingan dalam satu barisan. Sementara taeyeon tampak kecewa, orang yang paling di harapkannya hadir tidak kunjung datang. Dengan berat hati ia pun langsung ikut berbaris dengan kelompok kelasnya. Keempat temannya yang mengerti akan yang di rasakan taeyeon pun hanya mampu memberikan senyum untuk memberinya semangat.

 

Seluruh siswa kompak dalam menyanyikan lagu mars sekolah mereka, dengan iringan nada piano yang lembut namun tegas dari sang pianis ternama di sekolah, Kim Myung Soo. Namja berparas tampan namun pendiam itu berhasil menghipnotis para yeoja yang hadir atas jari-jarinya yang lihai dalam mengola tuts-tuts piano tersebut.

 

Begitu juga dengan sunny yang sedari tadi tak fokus menyanyikan lagu mars sekolah yang menurutnya sangat  ketinggalan jaman dan lebih memilih mencuri pandang pada namja yang duduk di tengah panggung itu. Sudah sejak lama Sunny memendam perasaan sukanya pada Myung soo, pertemuan mereka bermula saat keduanya bertemu di perpustakaan sekolah. Saat itu Sunny yang mendapat giliran dari kelas untuk membereskan buku-buku di perpustakaan, awalnya ia merasa jengkel dan bosan karena tugas yang di berikan guru Park padanya. Apalagi ia cukup merasa kesulitan untuk meraih sebuah buku yang terletak di rak atas, dengan kaki pendeknya ia tetap berusaha berjinjit bahkan melompat untuk meraih buku tersebut. Namun pucuk dicinta ulam pun tiba, seperti kata pepatah lama yang  telah di sebutkan ia pun segera merasakan tangan seseorang yang memegang pundaknya dan dengan jiwa kepahlawanan membantunya mengambil buku tersebut.

 

 

Seorang namja berparas imut sekaligus tampan menyerahkan buku berwarna merah tua yang sedang di genggam nya begitu saja. Ekspresinya dingin , namun bibirnya tetap tersenyum tipis pada sunny, sang gadis pun dengan gugup membungkuk berulang kali untuk mengucapkan rasa terima kasihnya. Sang namja yang memiliki name tag ‘Kim Myung Soo’ itu pun jadi ikut tertawa melihat kelakuan gadis di depannya. Sadar akan di tertawakan, Sunny berhenti dari aktivitas menunduknya dan mengulurkan tangan untuk berkenalan. Yap , sejak saat itu Sunny dan Myung Soo menjadi dekat. Ia selalu di buat kagum oleh pria tersebut, apalagi ia baru mengetahui jika Myungsoo jauh lebih muda 2 Tahun dari dirinya, ia adalah murid jenius yang mampu loncat kelas dua tingkat dari yang seharusnya. Meski hanya berteman dan bertemu beberapa kali, perasaan kagum itu perlahan berubah menjadi rasa suka yang sangat mendalam. Tapi sungguh sayang, Sunny belum punya keberanian sampai sekarang. Dan taeyeon tau akan hal itu, karena gadis berkulit pucat itu yang hanya Sunny percaya untuk rahasia cerita asmaranya.

 

 

Nyonya Kim yang tak lain adalah ibu tiri Taeyeon, baru saja hadir bersama putri sulungnya Kim Irene. Mereka segera bergegas untuk duduk di kursi tamu yang sudah di sediakan. Tak lupa ia memberikan salam pada orang tua lainnya, begitu juga dengan Irene kecil yang cantik. Ia dengan terkagum –kagum menatap seluruh interior aula gedung, sebentar lagi ia akan tamat dari sekolah menengah pertamanya. Dalam hati ia bertekad untuk segera diterima di sekolah kakaknya ini tahun depan.

 

 

Nyonya Kim sejak tadi terus saja memperhatikan putri tirinya, Kim Taeyeon. Dengan bangga ia meneteskan air mata haru, karena putri yang bukan darah dagingnya itu berhasil lulus dengan nilai yang cukup memuaskan. Sebeneranya nyonya Kim sangat  menyayangi taeyeon seperti ia menyayangi Irene, ia tak pernah membedakan keduanya karena sebelum Irene lahir kedunia ia dan taeyeon cukup dekat. Karena sejak Irene lahir, taeyeon merasa kesepian dan merasa mulai tak di jadikan prioritas lagi oleh orang tuanya. Ia selalu saja mengurung diri dan bersikap dingin pada ibu tirinya bahkan pada adik kecilnya yang manis dan lucu.

 

 

Seluruh siswa sudah selesai bernyanyi, bahkan pidato dari kepala sekolah bahkan wali kelas masing-masing kelaspun sudah di lakukan. Saatnya bagi para siswa bertemu dengan keluarga mereka untuk mendapatkan karangan bunga dan berfoto bersama. Taeyeon membungkuk sopan kepada orang tua teman-temannya, terutama pada Daddy dan Mommy Jessica yang sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri. Tak lupa keduanya juga memeluk taeyeon dengan erat dan mengucapkan selamat pada sahabat putri nya.

“anyeeong semuanya” sapa nyonya Kim pada keluarga yang sedang berkumpul. Kemudian ia menatap taeyeon dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

“ibu.. kau? Ah terima kasih karena sudah hadir” taeyeon yang kaget pun segera memberi salam pada ibu tirinya. Di dalam hatinya ia sedikit bersyukur karena masih ada yang peduli padanya.

 

Nyonya Kim tersenyum sembari memberikan sebucket bunga pada putri tirinya. “selamat nak, ibu bangga padamu. Bolehkah aku memelukmu sebentar?” ucap Nyonya Kim agak ragu, ia takut taeyeon akan menolak perlakuannya.

 

“tentu saja ibu, aku menghargai kebaikanmu” dengan sedikit gugup taeyeon memeluk ibu tirinya, hatinya sedikit berdesir tatkala merasakan kehangatan pelukan seorang ibu lagi setelah sekian lama. Walaupun umma dan appa nya tak akan pernah datang memberikannya selamat, setidaknya ia salah menilai akan ibu tirinya selama ini, ia merasa bersalah sekaligus sedih. Ibunya mengelus punggung gadis itu dan mencium pipi taeyeon, ia memberikan senyum tulusnya untuk putri yang ia sayangi agar tak merasa bersedih, ia paham atas rasa kecewa yang taeyeon rasakan karena Appanya tidak bisa hadir.

 

“chukaee unnie –ya , kamu sangat keren tadi” ucap Irene bangga pada kakanya. Taeyeon pun dengan sayang mengacak rambut adik nya tersebut. “kamu tak ingin memelukku juga Irene ah?” godanya pada gadis itu, ia tau jika selama ini Irene selalu merindukan kedekatan diantara mereka, tapi ia terlalu egois untuk mengakui keluarga barunya atas apa yang sudah ia alami.

 

Irene pun tersipu malu sambil memeluk tubuh kakak perempuannya dengan erat, kemudian dengan cepat ia mengecup pipi gadis tirus tersebut, tentu saja hal tersebut membuat taeyeon dan lainnya ikut tertawa.

 

Disisi lain~

 

Tiffany yang sejak tadi sudah hadir di upacara kelulusan taeyeon pun ikut bersuka cita menyambut moment kecil dari keluarga kekasihnya tersebut. Ia sudah membawa sebuket bunga mawar putih kesukaan taeyeon di genggamannya, namun ia masih saja setia berdiri di pinggir aula karena tak ingin mengganggu momen yang taeyeon lakukan dengan keluarga nya. Ia harus menunggu dengan sabar, sebab taeyeon sudah berjanji untuk berkencan spesial di hari kelulusannya dengan tiffany sore ini. Yap, sekolah tiffany sudah lebih dulu mengadakan upacara kelulusan, para teman-teman nya datang untuk memberikannya selamat, maka sekarang saatnya untuk dia memberikan selamat pada mereka.

 

Dengan senyuman yang mengembang di bibir indahnya, ia pun melangkahkan kakinya dengan anggun ke arah mereka. Banyak siswa-siswa lain yang mengenal tiffany pun ikut kagum melihat penampilannya yang cantik dengan dress merah muda selutut. Namun, mendadak kakinya berhenti melangkah seolah ada magnet yang siap menahan high hills yang ia kenakan. Hatinya segera hancur berkeping-keping saat melihat seorang namja tampan memeluk kekasih hatinya dengan mesra.

 

“hai kiddo!! Congratulations atas kelulusanmu!!” sebuah suara berat berhasil menghentikan aktifitas berfoto mereka, seluruh anggota keluarga termasuk Sunny, Sooyoung, Jessica dan Yuri pun ikut heran karena merasa tak mengenal pria bertubuh tegap tersebut.

 

 

Namun taeyeon yang di buat kaget pun segera tersenyum sambil berlari memeluk tubuh pria itu dengan erat. Tak ada yang berani berbicara, mereka masih saja memperhatikan interaksi keduanya termasuk dengan Nyonya Kim dan Irene.

 

 

“Oppa.. bogoshipoyo. Aku kira kamu ga bakal datang ke upacara kelulusanku. Terimakasih oppa, aku mencintaimu” ucap taeyeon sedikit berlinang air mata, ia tak kuat menahan haru karena kakak tertuanya menepati janji nya untuk hadir, setidaknya dengan kehadiran oppanya di sini mampu menghapuskan rasa rindunya sedikit akan keluarganya.

 

 

“tentu saja adik manisku, oppa sudah berjanji padamu minggu lalu dan aku akan menepatinya sebelum berangkat pulang ke New York lusa” lelaki yang di sebut Oppa oleh taeyeon itu pun mengacak rambut adiknya dengan lembut.

 

 

Namun ia segera sadar karena telah berhasil membuat semua teman-teman taeyeon bingung, ia pun segera membungkuk untuk memperkenalkan diri “anyeong haseyo, Kim Jiwoong imnida. Saya kakak kandungnya Taeyeon dari New York” ia memberikan senyuman hangat pada semuanya.

 

 

Tentu saja mendengar kata ‘Kakak Taeyeon’ membuat yang lainnya semakin tak percaya, namun mereka segera menepiskan rasa kaget tersebut dan mulai memperkenalkan diri masing-masing. Begitu juga dengan Nyonya Kim dan Irene. Jiwoong yang tau kalau istri kedua ayahnya yang hadir pun segera memberi hormat padanya, bagaimana pun ia mengucapkan rasa terima kasih karena telah merawat adik yang ia sayangi dengan sepenuh hati.

 

 

“apakah kamu ingin mampir makan siang dirumah Jiwoong ssi?” Tanya nyonya Kim lembut padanya.

 

 

Namun ia menerima gelengan lembut dari namja tersebut.”mianhae nyonya Kim, bukan nya saya ingin menolak ajakan anda, tapi aku masih belum siap bertemu appa” jawabnya sembari tersenyum lemah.

 

 

Nyonya Kim pun mengangguk mengerti meski ia sedikit merasa kecewa, tapi ia masih tetap senang karena akhirnya bisa melihat Taeyeon tersenyum kembali. Ia pun segera berpamitan untuk pulang kerumah bersama Irene, begitu juga dengan orang tua lainnya yang sejak tadi sudah meninggalkan gedung aula sekolah ini.

 

“aku tak menyangka jika oppa sangat mirip dengan si cebol ini, dan.. kamu sungguh tampan oppa” ucap sooyoung dengan wajah penuh kekagumannya.

 

 

Sementara sunny dan yang lainnya mengganggukan kepala tanda setuju dengan argument dari teman tingginya itu. Jessica yang masih tak percaya pun mulai membuka suara. “younggie benar, aku dulu sering melihat foto kecilmu bersama taeyeon yang ia simpan di kamarnya. Aku mengira kalian adalah sepasang anak kembar yang terpisahkan oleh jarak dan aku benar-benar berharap untuk bisa bertemu denganmu suatu saat nanti, terima kasih karena sudah datang untuk sahabat yang paling aku cintai oppa dan telah mengabulkan keinginanku secara tidak langsung hehe”

 

 

Yuri yang mendengar hal tersebut sedikit merasa cemburu karena Jessica menginginkan bertemu orang lain selain dirinya. Tapi ia sengaja tidak memperlihatkan rasa cemburunya karena gengsi, karena ia tetap merasa menjadi gadis yang lebih menarik dari namja mana pun(?).

 

 

Mereka semua masih setia mengobrol bersama jiwoong , hanya taeyeon yang sedikit gelisah sejak tadi. Ia merasa tak enak hati, karena satu-satunya gadis yang ia tunggu tak kunjung datang. Sooyoung yang segera mengerti pun menepukan tanganya pelan pada bahu sahabatnya, “tiffany baru saja mengabariku jika tak bisa datang. Ia mendadak ada urusan keluarga dan menitipkan salam padamu taeng. Fany bilang selamat untuk kelulusanmu dan ia sangat bangga padamu.” Ucap sooyoung mencoba menenangkan sahabatnya.

Memang benar baru saja tiffany mengirimkan pesan pada gadis tinggi tersebut untuk meminta maaf karena tak bisa hadir, tentu saja ia bisa memakluminya. Tapi tanpa mereka sadar jika tiffany sejak tadi sudah datang ke acara kelulusan mereka, namun entah mengapa ia enggan untuk bergabung dan memutuskan pulang begitu saja setelah melihat kehadiran namja yang tak ia kenal di hadapan taeyeon.

 

 

“siapa tiffany itu kiddo? Wah kamu lebih mengharapkan seorang gadis untuk hadir dibandingkan Oppamu yang tampan ini ya?” goda jiwoong padanya, semua orang tertawa sementara taeyeon hanya tersenyum. “ dia gadis yang aku ceritakan padamu minggu lalu oppa. aku juga mengharapkanmu paboya”  ia memukul kepala jiwoong pelan, mereka semua kembali tertawa melihat kelakuan dua kakak beradik yang terlihat sangat mirip tersebut, bedanya hanya rambut jiwoong pendek dan rambut taeyeon jauh lebih panjang kekeke.

 

“baiklah-baiklah, maafkan oppa hehehe. Bagaimana jika aku mentraktir kalian makan untuk merayakan kelulusan kalian?” ucap jiwoon, tentu saja hal tersebut disambut baik oleh mereka semua terutama sooyoung.

 

 

 

>>>

 

Setelah hari kelulusan dan makan siang untuk merayakan kelulusan mereka bersama kakak kandungnya, malam harinya taeyeon datang untuk menemui Tiffany. Ia berencana untuk melakukan pesta kecil-kecilan dirumah kekasihnya tersebut, karena ia tahu jika sore tadi Daddy dan Mommy nya mengabari taeyeon untuk berkunjung kerumah mereka jika ada waktu untuk menemani Tiffany yang akan mereka tinggalkan untuk perjalanan bisnis selama dua hari.

 

Tentu saja kabar itu disambut sangat baik oleh taeyeon, setelah selesai membersihkan diri ia pun segera melajukan motornya ke minimarket untuk membeli beberapa makanan ringan serta minuman untuk persiapan pesta di rumah tiffany. Namun ia harus menelan rasa kecewa mendadak, karena ternyata Tiffany sedang tidak ada dirumah, ahjussi sang supir pribadi di keluarga nya mengatakan jika Nonna mudanya sudah pergi bersama Bora sejak sejam yang lalu. Maka pupus lah harapannya untuk mewujudkan kencan spesial yang sudah ia rencanakan, dengan berat hati taeyeon harus melajukan motornya pergi menjauh. Ia cukup sedih kali ini, tapi ia tak bisa menyalahkan tiffany karena ia merasa tiffany juga butuh kebebasan untuk berkumpul bersama teman-temannya, ia tak punya banyak hak untuk melarangnya.

 

Tanpa sadar ia pun memarkirkan motor matic biru mudanya di depan apartement milik yuri. sudah hampir 2 tahun terakhir ia tidak menginjakan kaki nya di tempat ini mengingat hubungannya dulu bersama yuri sempat renggang karena saling membenci.

 

 

Dengan berat hati ia pun memencet bel di depan pintu tersebut, apartement yuri tidak terlalu besar dan juga tak kecil ukurannya sangat cocok untuk di tinggali seorang diri mengingat kedua orang tuanya yang tinggal di kota lain karena harus mengurus usaha milik kakek neneknya. Tak perlu waktu beberapa lama, seseorang pun membukakan pintu, siapa lagi kalau bukan Kwon Yuri si pemilik sah dari tempat yang ia tuju. “mau berpesta?” ucap taeyeon nyengir padanya.

 

Walau sedikit kaget akan kehadiran taeyeon ia pun mempersilahkan gadis bertubuh pendek itu untuk masuk.

 

 

“tidak banyak yang berubah dari tempat ini, kamu masih saja memajang foto itu ya” taeyeon tersenyum memperhatikan sebuah figura kecil di sudut ruangan yang menampilkan kedua anak kecil yang tersenyum sambil memegang mendali yang menggantung pada leher mereka. Tanpa sadar yuri juga ikut tersenyum melihat foto tersebut, ia sangat menyayangi foto tersebut karena itu satu-satunya foto yang tersisa dari persahabatan mereka berdua.

 

“tentu saja, bagaimana pun aku ga bisa membencimu begitu saja taeng ah.”

 

Taeyeon pun mengangguk mengerti dan duduk di sofa hitam milik yuri. “ bagaimana hubunganmu dengan sica?” ucapnya membuka obrolan. Sementara yuri yang baru saja menuangkan soju pada gelas ikut melirik kearah gadis di depannya itu sekilas, lalu memberikan segelas cairan alkohol itu padanya. “gumawo” ucap taeyeon lalu meminumnya dalam sekali tegukan.

 

“seperti yang kamu lihat, aku dan sica sudah semakin membaik. Aku rasa dia sudah memaafkanku sepenuhnya. Terima kasih karena telah menyadarkanku saat itu taeng ah” jawabnya sambil meneguk cairan bening itu. Ia menuangkan kembali soju tersebut ke gelas taeyeon dan bersulang untuk meneguknya.

 

“bagaimana denganmu dan fany? Mengapa kamu kesini, maksudku aku sedikit kaget melihatmu tiba-tiba datang di depan pintu apartementku. Aku pikir tadi sica babyku yang datang. Untung saja aku tidak langsung menciummu haha”

 

Taeyeon sedikit kaget dengan perkataan jujur dari teman hitamnya itu, namun dia ikut tertawa “kamu sungguh mesum yul, aku ga nyangka kalian sudah sejauh itu. Aku rasa kamu perlu di bawa ke dokter untuk cuci otak.” Candanya.

 

“yah !!! aku memang mesum dan tidak ada yang memungkiri atas keseksian tubuh dari seorang Jessica jung, tapi asal kamu tau ya dia bisa saja langsung membunuhku jiwa berani menyentuh ‘area’ fantastis dari tubuhnya, memikirkannya saja sudah membuatku bergidik ngeri” taeyeon kembali tertawa mendengar perkataan yuri, ia tak menyangka jika orang seplayer selevel yuri mampu takluk dengan Jessica.

 

“hei ayolah jangan menertawakan ku, lebih baik jawab pertanyaanku tadi. Pasti kamu lagi bermasalah dengan tiffany ya?” Tanya nya dengan sedikit kesal.

 

 

Mendengar nama tiffany, membuat rasa kecewa taeyeon kembali . dengan berat hati ia menceritakan apa yang ia rasakan pada gadis di depannya. Tentu saja yuri menyambut baik setiap cerita taeyeon dengan soju yang terus mereka minum, tanpa sadar keduanya telah mabuk dan tertidur di sofa hitam milik yuri hingga pagi.

 

>>>

 

jam sudah menunjukan pukul 11 siang, sementara taeyeon sudah sampai di halaman rumah besarnya. Lee ahjussi yang tak lain merupakan supir pribadi keluarganya terlihat sedang membersihkan mobil hitam yang semakin kinclong milik ayahnya, itu pertanda ayahnya sudah berada dirumah.

taeyeon semakin heran, karena tidak biasanya di jam-jam kerja seperti ini Appa super sibuknya itu bisa berada dirumah, “ini keajaiban!! mungkinkah dia ingin memberikan selamat padaku?” ejeknya dalam hati.

 

dengan sedikit harapan di dalam dirinya, ia pun masuk ke dalam rumah besar tersebut sambil sedikit bersiul-siul. Dalam setiap langkah kakinya ia selalu mengingat kejadian terakhir yang ia habiskan bersama Oppanya, ia ingin merasa bahagia sekarang, ia tak mau lagi bersedih atau pun berputus asa seperti dulu kala. masalah hatinya dengan Tiffany biarlah ia selesaikan setelah ini. Yap, taeyeon tak mau menjadi seorang pecundang seperti dulu saat ia menyukai jessica, kali ini ia akan lebih memperjuangkan cintanya.

 

dengan tenang ia meletakan ranselnya di sofa, tak jauh dari sana, taeyeon melihat ayahnya yang sedang duduk di sebuah kursi panjang di pojok ruangan, tempat biasanya untuk taeyeon dan keluarganya dulu menghabiskan sisa waktu bersama untuk sekedar mengobrol dan bercanda. namun tanpa sepengetahuan taeyeon bahwa appanya sudah sejak tadi menunggunya disana.

“taeyeon!” ucapnya tegas setelah melihat taeyeon yang segera mendekat.

“iya appa?” taeyeon berdiritepat  di depan  appanya yang juga berdiri dari tempat duduknya.

 

 

‘PLAAKK!!!’

 

 

 

Sebuah tamparan keras berhasil mendarat di pipi tirusnya.

 

 

 

Tbc.

Just love me! 12

 

Title: Just love me!

Author: kimrungie

Genre: romance , yuri , school life , hurt.

Cast : Kim Taeyeon

Jessica Jung

Tiffany Hwang

Kwon Yuri

other cast: sunny lee

sooyoung choi

SELURUH ALUR CERITA INI MURNI HASIL PEMIKIRAN AUTHOR, JANGAN MENGCOPAS TANPA IJIN DAN SILAHKAN BERIKAN KOMENTAR JIKA SUKA”

Happy reading!

 

 

 

            Taeyeon memeluk tiffany dengan lembut sembari mengelus rambut kekasih cantiknya itu. Malam minggu ini mereka habiskan hanya berdua di rumah Tiffany.  Yah , kedua orang tua nya memang sengaja menitipkan anaknya semata wayang yang paling mereka cintai kepada Taeyeon, sementara mereka masih berada di Kanada untuk urusan bisnis. Entah mengapa kedua orang tua Tiffany menyetujui hubungan mereka begitu saja, mungkin karena keluarga Tiffany sebelumnya sudah lama bermukim di negeri Paman Sam itulah yang membuat mereka lebih terbuka dengan hal seperti ini. Tentu saja kabar ini disambut bahagia oleh teman-teman lainnya.

               Jack dan Rose maih setia beradegan mesra di hadapan mereka, tiffany masih saja setia menatap layar tipis persegi di hadapannya itu, bibirnya tak henti-hentinya mengembangkan senyum dan takjub atas setiap adegan yang ia lihat, bahkan ia tak kuasa menahan tangis karena melihat adegan dimana sepasang kekasih tersebut yang terpisahkan oleh maut karena kapal yang di tumpagi menabrak batu karang. Jangan Tanya bagaimana dengan gadis yang di sampingnya, karena gadis itu hanya menatap layar dengan malas sambil memutarkan matanya melihat adegan – adegan mesra yang tersaji, ia tipe gadis yang tak percaya dengan hal-hal berbau romantis dalam film dan novel karena baginya melihat seperti itu hanya membuang waktunya saja.

                 Dalam hidupnya ia hanya tertarik pada musik dan seni, sejak kecil ia suka menggambar sesuatu menggunakan crayon di tembok kamarnya tentu saja hal itu membuat Umma nya bangga pada gadis kecilnya, ia sering di beri pujian oleh kedua orang tuanya sembari mencium pipi gembulnya. Bakat seni taeyeon berasal dari gen Ibunya yang merupakan seorang pelukis handal di Korea Selatan, sementara oppa nya sejak kecil sering mengajarkannya bermain gitar , sehingga mereka sering bernyanyi bersama di halaman belakang rumah. Tidak dengan Appanya yang lebih tertarik dengan bisnis sehingga sering mengabaikan waktu bersama mereka, ayah taeyeon adalah seorang pekerja keras karena ia merasa perjuangannya sangatlah besar dalam membangun perusahaan ‘KIM’S FOOD’ dari bawah hingga bisa se sukses sekarang. Sejatinya tidak ada orang tua yang tidak menyayangi anak-anaknya, appa nya selalu ingin memberikan yang terbaik untuk ketiga anaknya, ia tak ingin keluarganya hidup dalam kemiskinan oleh sebab itu ia selalu menghabiskan seluruh waktunya untuk perusahaan dari pada keluarga, namun justru hal tersebutlah yang membuat Taeyeon merasa apa yang ayahnya lakukan adalah sebuah kesalahan yang tak bisa ia maafkan.

                 Tanpa sadar ia sudah melamun hingga film pun selesai. Bahkan tiffany menatapnnya heran sembari menyilangkan kedua tangannya di dada. “kamu melamun eoh?” Tegurnya pada gadis berkulit pucat itu. Si gadis yang baru sadar akan dunia aslinya pun kaget, namun ia segera memberikan cengiran khasnya pada kekasih hatinya. Tiffany dibuat semakin curiga, ia bertanya kembali “ kamu memikirkan jessi ya?” kedua matanya melotot menatap taeyeon, seakan kedua bola mata itu akan copot dari tempatnya. Si gadis yang ditatap hanya bergidik ngeri menatap wajah marah kekasihnya. Ia segera memberikan gelengan “aku hanya memikirkan umma”jawabnya. “ohh.. maafkan aku tae. Aku salah menduga tentangmu” tanpa sadar ia mengelus tangan taeyeon sembari memberikan tatapan lembut. Ia ingin memberikan kehangatan pada gadis itu, ia tahu bahwa di balik kesan dingin yang selalu Taeyeon berikan kepada orang lain, ia hanyalah gadis yang rapuh yang berusaha terlihat kuat di hadapan teman-temannya, itulah yang membuatnya jatuh cinta pada gadis tersebut.

“kamu sudah mengerjakan pr mu ppany ah?” tiffany menggeleng sambil tersenyum, ia tau bahwa taeyeon sedang mengalihkan pembicaraan. Itu tandanya si gadis pendek tak ingin membahas hal tersebut lebih dalam, tentu saja tiffany dengan senang hati melakukannya karena ia tak ingin taeyeon bersedih lagi.

“kalau begitu ayo kita kerjakan bersama, cepat ambil bukumu”

Tiffany mengangguk dengan senang. Ia pun segera mengambil buku nya dan kembali pada taeyeon. Mereka pun mulai mengerjakan tugas – tugas tiffany bersama-sama.

Setengah jam kemudian.

“aigoo… mengapa harus ada matematika sih di dunia ini, membuat rambutku rontok saja” runtuk taeyeon sambil mengacak-acak rambut hitamnya kesal. Sementara tiffany tertawa melihat tingkah kesal pacarnya yang menurutnya itu imut. Dengan kelembutan ia pun merapikan kembali rambut taeyeon dengan jari-jarinya. Taeyeon kembali terdiam, seakan telah terhipnotis akan perlakuan sederhana dari pacarnya, ia menatap tiffany bingung sekaligus senang. Entah karena alasan apa jantungnya kembali berdetak lebih cepat dari biasanya , seluruh rasa kesalnya hilang dan berganti dengan lengkungan senyum di bibir tipisnya. Tiffany pun ikut tersenyum, sehingga mereka beradu pandang untuk waktu yang cukup lama. Secara refleks Tubuh mereka seakan tau apa yang harus di lakukan selanjutnya yakni mendekat satu dengan yang lainnya, hembusan nafas pun kian terasa diwajah kedua gadis tersebut sembari kedua bibir mulai menutup jarak yang tersisa dan saling bertautan dengan lembut. Tak ada emosi, hanya beberapa kecupan lembut yang taeyeon berikan, begitu juga dengan balasan yang tiffany berikan.

             Mereka sudah melakukan ciuman untuk beberapa waktu sebelumnya tapi yang kali ini bagaikan ciuman pertama untuk keduanya, tak ada nafsu di dalamnya. Mereka berenti untuk beberapa saat, menyatukan dahi satu sama lain sambil tersenyum di bibir masing-masing. Taeyeon mengatur nafasnya,seakan merasakan ada jutaan kupu-kupu yang siap terbang dari balik perutnya. Ia kembali memeluk pinggang tiffany dan menatap tepat kedalam bola matanya “ aku baru tau bagaimana rasanya jatuh cinta yang sebenarnya…”

“how?” Tanya gadis bereyesmile itu dengan senyuman yang semakin merekah.

“mari kutunjukan padamu Tiffany Hwang.” Ucapnya lantang sambil menutup jarak kembali diantara mereka, ciuman panaspun kini tak dapat ter elak an.

***

           Setelah mengantar tiffany menuju sekolahnya, taeyeon pun bergegas memutar arah menuju SMA nya . ia tak mau di hukum karena telat masuk di jam pertama, membayangkan wajah Seosangnim yang killernya melebihi anjing galak milik satpam perumahan elite tempat  tinggalnya sudah membuat bulu kuduknya berdiri. Mau tak mau ia harus menambah kecepatan penuh pada laju motornya, untung saja jalanan Seoul hari ini sedang sepi sehingga ia tak perlu khawatir untuk ngebut. Setelah sampai di parkiran, ia pun segera berlari menuju kelasnya. Butuh usaha ekstra untuk menaklukan ratusan anak tangga dengan kakinya yang mungil, sungguh sebuah anugerah dari tuhan karena kelasnya berada di lantai tiga. Akhirnya ia pun berhasil masuk kedalam kelas dengan nafas yang tersenggal-senggal. Baju yang cukup berantakan serta keringat yang bercucuran membuat seisi kelas terheran-heran. Pasalnya ini adalah pemandangan pertama kali seumur hidup untuk mereka melihat siswa secerdas taeyeon datang terlambat dari biasanya, begitu juga dengan sooyoung dan lainnya.

“hei sini cepat duduk!! Sebentar lagi guru Park datang” teriak sunny padanya.

Taeyeon pun segera mengikuti perintah teman cebolnya. Ia sedikit bersyukur karena guru killer tersebut belum berada dikelas.

“pakai ini untuk membersihkan keringatmu taeng ah” Jessica menyodorkan sapu tangannya, “gumawo princess” balas taeyeon senang. Ia pun segera merapihkan diri. Tak selang beberapa menit, guru yang ditunggu-tunggu pun masuk dan dengan ajaibnya seisi kelas menjadi diam membisu. Pelajaran pun dimulai dengan tenang hingga bel istirahat berbunyi.

Seperti biasa, mereka menghabiskan waktu istirahat di kantin untuk mengisi perut sekaligus mengobrol bersama. Berbeda dari biasanya, kali ini sooyoung lebih tertarik memborbardir teman pendeknya dengan segudang pertanyaan dari pada menghabiskan makanannya. Sementara yang ditanya hanya memandang malas.

“ayolah pendek, aku penasaran kenapa kamu telat” desak sooyoung.

“iyanih, aku juga penasaran. Kamu begadang ya?” Tanya sunny. Sementara Jessica hanya memperhatikan taeyeon sambil menopang dagunya dengan kedua tangan yang di letakan di atas meja. Entah mengapa hanya menatap wajah sahabatnya akhir-akhir ini sudah membuatnya senang dan kenyang(?).

Dengan malas taeyeon menjawab pertanyaan mereka. “ iyaa nih, semalaman aku membantu tiffany mengerjakan tugasnya. Karena itu lah aku telat.” Ia tak ingin jujur akan hal lain yang ia kerjakan bersama tiffany karena takut di ledek habis-habisan oleh sooyoung, lebih baik menyimpan nya sendiri saja, begitu pikirnya. Tanpa sadar memikirkan hal tersebut membuatnya jadi tersenyum sendiri, tentu saja sooyoung semakin ngeri menatap teman pendeknya itu.

“kamu pasti berbuat mesum ya di rumah fany? Dasar byuntae!!” tuduhnya sambil tertawa.

“kamu tuh yang mesum tiang listrik!!” ucapnya membela diri. Sementara sunny dan Jessica ikut tertawa melihat tingkah kedua temannya yang selalu bertengkar. Beberapa menit kemudian seseorang datang ke meja mereka.

“baby.. aku ingin berbicara padamu” ucap yuri yang menatap Jessica penuh harap.

“pergilah yul, aku sedang tak ingin melihat wajahmu” balasnya tanpa menatap wajah yuri.

Taeyeon yang melihat adengan tersebut seakan mengerti, ia mengajak sooyoung dan sunny untuk pergi menuju kelas.

“perjuangkan perasaanmu yul, jangan jadi pengecut seperti aku dulu. Fighting!” bisik taeyeon padanya sebelum menjauh.

            Sudah hampir seminggu Jessica mendiamkan kekasih  tanned nya tersebut. Ia kecewa karena yuri lebih memilih menghabiskan waktu bersama teman se tim basketnya dari pada dengan dirinya. Malam itu saat taeyeon selesai mengantarkannya pulang, yuri juga tak kunjung menelpon nya atau pun memberi kabar. Jessica kembali menangis karena merasa di abaikan oleh orang yang ia sayang.

              Keesokan harinya yuri datang menemui Jessica di rumahnya, wajahnya sedikit lebam di bagian sudut bibir kirinya, dengan khawatir Jessica membawanya masuk kerumah sembari mengobati luka pada wajah kekasihnya itu. Setelah selesai mengobati, dengan khawatir Jessica bertanya padanya atas apa yang terjadi, dengan wajah lesu yuri pun menceritakan jika malam itu taeyeon datang menemuinya dan memukulnya tepat di depan semua anggota tim. Ia marah besar pada yuri yang mengabaikan Jessica hanya untuk berpesta dengan orang lain, taeyeon mengingatkan kembali atas janji yang yuri buat padanya. Tentu saja Jessica penasaran akan janji yang taeyeon bicarakan pada yuri, mau tak mau yuri pun menjelaskan padanya bahwa taeyeon dulu mencintainya, dan yuri sudah berjanji untuk menjaga Jessica dengan seluruh jiwa raganya pada malam saat mereka di Busan.  karena telah melanggar janjinya yuri pun menyesal dan memohon maaf pada kekasihnya itu, namun entah mengapa sejak hari itu Jessica mengatakan ingin sendiri dulu untuk sementara waktu dan bersikap dingin padanya setelahnya. Ia sangat kecewa pada yuri yang tak jujur sejak awal, dan ia juga kecewa pada dirinya yang tak peka akan perasaan yang di rasakan sahabat kecilnya untuk dirinya.

“baby.. kumohon jangan seperti ini..” ucap yuri kembali, ia mengambil tangan Jessica dan mengenggamnya pelan.

Jessica kembali diam, ia tak ingin melihat yuri sekarang seakan hatinya belum siap.

Dengan penuh keberanian yuri pun memeluk Jessica dengan erat di hadapan semua orang yang berada di kantin. Ia tak peduli lagi akan seluruh penggemarnya yang patah hati karena melihat adegan tersebut. Ia hanya ingin Jessica dalam hidupnya.

“maafkan aku baby, aku sungguh menyesal karena mengabaikan mu.. aku juga menyesal karena berbohong padamu saat itu. Tapi aku melakukan semua ini karena aku benar-benar jatuh cinta padamu sejak kita bertemu di lapangan sekolah aku tau tindakanku salah karena merebut cinta pertama sahabatku sendiri.., tapi seperti yang kamu tau jika cinta bisa membuat seseorang jadi buta dan egois, aku jahat sica. Aku bahkan sudah berhasil membuat taeyeon memaafkanku dan berjanji padanya untuk selalu menjagamu dengan sebisaku, tapi aku malah lalai dengan janji itu. Sungguh aku memang bodoh..” ucapnya dengan penuh penyesalan.

Jessica masih saja diam dalam pikirannya.

Yuri menghembuskan nafasnya berat, ia berlutut di hadapan kekasih nya. Ia mengambil kedua jemari Jessica kembali dan mengecupnya pelan . sontak perlakuannya tersebut membuat seluruh siswa dan siswi di kantin menjadi heboh. Mereka seakan tak rela melihat yeoja yang mereka taksir rela melakukan hal tersebut pada orang lain, sementara di sisi lain tak ada satupun diantara mereka yang berani protes karena gadis beruntung tersebut adalah Jessica Jung, si Princess es!

“baiklah jika kamu tak ingin memaafkanku, aku tau jika yang kulakukan ini tak sebanding dengan semunya yang sudah terjadi. Aku harap bisa memaafkanku nanti…” dia beranjak dari posisinya untuk berdiri, hendak pergi meninggalkan Jessica. Namun tangannya kembali di tahan oleh sang gadis berambut blonde tersebut.

“dasar bodoh! Aku merindukanmu pabo..” ucap Jessica pelan namun masih bisa di dengar oleh yuri. ia pun berbalik untuk menatap kekasihnya seolah tak percaya.

“k-kamu serius kan?”Tanya heran, Jessica hanya menggangguk untuk memberi jawaban.

Dengan senang yuri pun memeluk kekasihnya tersebut dengan erat. “gumawo baby.. aku juga sangat merindukanmu, aku ga tahan berlama-lama jika ga denger suara merdumu. Bisa-bisa aku akan mati besok” ucapnya sambil tersenyum.

“dasar gombal!” ucap Jessica sambil membalas pelukannnya, tanpa sadar ia ikut tersenyum malu.

Seseorang sedang memperhatikan mereka sejak tadi dari kejauhan. Bibirnya pun ikut tersenyum tulus melihat kedua orang yang ia sayangi mampu memaafkan satu sama lain. “ setidaknya ia lebih gentle dari yang ku kira, terimakasih karena menepati janjimu yul” ucapnya pelan, lalu memutuskan pergi dari tempat tersebut.

tbc.

selamat pagi untuk kalian semua para readers di wordpress tercinta~

seperti biasa aku selalu telat apdet untuk ff seupil ini.  curhat dikit boleh yaa~

ntah kenapa ya akhir-akhir ini feels akan taeny shipperku sedikit berkurang haha. mungkin karena aku kebanyakan ngubek2 artikel luar yang ngebahas pendapat mereka tentang taeny kali ya, kebanyakan sih dari mereka bilang kalo tiffany itu ratunya fanservis sementara para locksmith yang udah hardcore tingkat akut kek aku gini banyak delusinya wkwk. yaah sedikit banyak kata-kata mereka ngerubah cara pandang aku tentang taeny yang dari dulu tuh ngotot ngomongin “taeny itu real!” karena menurut aku tatapan tiffany ke taeyeon itu ‘beda’ banget kaya penuh cinta gitu wkwk. eeiiitss tapi bukan berarti aku jadi ga suka sama mereka atau ngebenci kok, aku masih mencintai mereka berdua karena taeyeon bias utama aku di snsd dan yang paling penting mereka berdua itu masih bagian di snsd. ga peduli mau mereka real atau cuma sekedar sahabatan , asalkan mereka masih di satu agency yang sama artinya aku masih bebas berdelulu ria hehehe. 

btw aku mau ngungkapin rasa berdukaku atas berita yang menimpa jakarta hari ini. aku sungguh sangat-sangat menyayangkan atas semua tindakan bodoh yang selalu mengatasnamakan agama. pokonya aku berharap semoga kejadian kaya gini tuh ga terulang lagi di bumi Indonesia yang kita cintai ini. untuk kalian para penerus bangsa, termasuk aku juga sih hehe. pesen aku  cuma satu, jangan mau di adu domba atas apa yang udah terjadi, bagaimana pun kita harus bisa berpikir kritis atas semua masalah, jangan mau terpecah belah. tetap junjung tinggi nilai nkri! karena semua perbedaan itulah yang menyatukan kita, ibarat kaya taeny yang menyatukan kita dalam dunia perDelusian kekeke.

oke segitu aja cuap cuap ga berfaedah dari aku,

salam sayang dari author:*.

bye bye~ 

#prayforjakarta

5,6,7

holla readers!

 

berhubung aku lagi jarang buka wp karena error terus nih, aku memutuskan untuk nge repost ulang semua ff ku yang masih seupil ini di blogger.com.  aku juga masih bimbang mau post lanjutan ff ini di wp atau blogger tapi aku usahakan untuk ngepost di keduanya. kalo kalian yang punya blog bisa follow aku disitu ya hehe.

silahkan di follow ya http://kimrungie.blogspot.co.id/

 

selamat beraktifitas semuanya :3

selamat sore !

just love me! 11

Title: Just love me!

Author: kimrungie

Genre: romance , yuri , school life , hurt.

Cast : Kim Taeyeon

Jessica Jung

Tiffany Hwang

Kwon Yuri

other cast: sunny lee

sooyoung choi

 

SELURUH ALUR CERITA INI MURNI HASIL PEMIKIRAN AUTHOR, JANGAN MENGCOPAS TANPA IJIN DAN SILAHKAN BERIKAN KOMENTAR JIKA SUKA”

short update.Maaf karena menyelesaikan ff ini dalam waktu yang lama, saya usahakan untuk menyelesaikannya secepatnya *bow*

happy reading!

 

 

 

 

Part sebelumnya~

Taeyeon menghentikan tangan Jessica dan menatapnya tajam. “ dimana yuri? kenapa dia tega membiarkanmu sendiri hujan-hujan begini?”

Jessica menatap taeyeon dengan murung, matanya berkaca-kaca di penuhi air mata yang hendak keluar. Tanpa aba-aba si gadis pendek pun memeluk tubuhnya. Jessica segera membalas pelukan taeyeon sambil terisak .

“menangislah, biarkan hujan ikut  merasakan apa isi hatimu. Aku disini untuk mendengarkan ceritamu” bisik taeyeon padanya.

 

Taeyeon pov

“jadi yuri sibuk dengan tim basketnya dan mengabaikanmu, begitu?”

Sica menatapku sambil mengangguk. Kulihat pipinya semakin basah karena menangis sejak tadi. Kuhapus air mata itu dengan kedua ibu jariku,  tanpa sengaja mata kami saling menatap satu dengan yang lain.

Beberapa detik berlalu aku pun tersadar dari lamunanku saat menatap matanya, ku alihkan pandanganku dengan segera dan mengacak rambut coklatnya itu dengan kedua tanganku

“jangan menangis seperti ini, apakah yuri terlalu berarti hingga mampu membuat air matamu jatuh? Kamu jelek tau” ejek ku padanya, dia tertawa juga sambil memanyunkan bibir tipisnya itu.

Lama kami berdua hanyut dalam keheningan masing-masing. Ku tatap setiap tetesan air yang jatuh melalui celah-celah atap halte ini, kenangan ini muncul lagi di kepalaku. Kenangan yang selalu ingin ku lupakan sedari dulu, dan yang menjadi pertanyaanku.. mengapa kenangan seperti ini selalu muncul disaat hujan turun.

“taeng ah.. hei, kenapa melamun eoh?” sica menguncangkan bahuku. Kulihat ia sambil tersenyum tipis.

“kamu merindukan umma?” tanyanya kembali dan aku pun mengangguk lemah sembari tersenyum.

Ia memeluk ku dari samping, awalnya aku kaget namun aku langsung membalas pelukannya. Ia menarik kepalaku untuk bersandar lebih dekat dengan bahunya, dan mengelus helaian rambutku dengan lembut.

“aku tau hujan  sering membawa semua kenangan buruk dalam dirimu, tapi jangan pernah batasi kebahagianmu karena rintikan hujan ini taeng ah. Kamu tau, mungkin kesedihan bisa menghanyutkanmu kapan pun ia mau. Tapi kamu juga harus tau kalau kamu sendiri lah yang dapat menghalau badai tersebut, karena kamu sumber kebahagian orang-orang disekitarmu” kurasakan bibirnya menyentuh rambut-rambutku. Jebal… jangan biarkan aku semakin dalam mencintaimu sica ah, aku sudah punya hati yang harus ku jaga.

“beberapa minggu kemarin aku bertemu oppa..”

“mwo? Oppa mu? Bagaimana bisa??” ia melepaskan pelukannya dari tubuhku dan menatapku kaget. Mungkin sudah saatnya aku menceritakan nya padanya.

“ne sica ah. Saat aku itu aku tak sengaja menabrak mobil seseorang, untungnya keadaan dia dan aku baik-baik saja. Kami hanya berkenalan untuk mengganti segala kerugian akibat kecelakaan itu , dan… dia memelukku dan mengaku jika dia itu jiwoong oppa. saat itu rasanya seluruh duniaku seakan berhenti berputar, aku ga bisa mikir dengan benar karena aku sedang buru-buru untuk menemui tiffany , hingga aku memberikannya nomerku dan kamipun berjanji untuk bertemu lagi dalam minggu ini.” Jelasku padanya. Kulihat raut mukanya sedikit berubah. Sedih,kecewa dan marah menjadi satu persis seperti saat dia mendengar kabar saat aku menghajar mantan kekasihnya dulu karena ketahuan berselingkuh.

Dia masih diam dalam pikirannya sendiri, meninggalkanku yang berkecamuk dengan rasa sedih yang mendadak menghujam hatiku.

“selamat ya.. akhirnya kamu sudah menemukan kebahagianmu sendiri taeng ah. Kamu telah menemukan cinta mu bersama tiffany, dan sekarang kamu bertemu oppa yang telah lama terpisah” raut mukanya kembali sendu. “tapi entah kenapa aku takut kalau kamu akan pergi meninggalkan ku dan lainnya nanti. Rasanya kabar kedatangan oppamu akan membawa berita besar nantinya.. apakah tiffany tau?”

Aku menggeleng lemah. Mendadak ponselku berdering, segera ku ambil benda berbentuk persegi panjang itu dari balik saku seragamku. Ini dari tiffany , dengan segera aku menjawab telfon tersebut.

“halo sayang” sapaku dengan nada seceria mungkin

“kamu lagi dimana boo? Sudah dirumah?” suaranya dari sebrang telepon.

“ah ani , aku sedang bersama sica di halte dekat café. Kami terjebak hujan sayang”jawabku jujur.

“oh baiklah taetae, bisakah kamu menginap dirumahku malam ini? Daddy dan mommy ada meeting mendadak ke hongkong selama seminggu.. aku takut sendirian saat hujan-hujan begini” rengeknya manja padaku.

“haha arraseo , aku pulang kerumah dulu untuk mengganti baju. Aku tutup dulu ya telepon nya sayang”

“baiklah boo, hati-hati ya” balasnya sambil menutup telepon.

Ku lihat Jessica sebentar, ia memberikan senyuman tipisnya padaku.

“aku rasa ini belum saat nya untuk memberitahukannya. Tolong rahasiakan ini dulu pada nya dan mereka ya” ucapku padanya. Kulihat hujan sudah mulai reda. “tunggu sebentar ya” ucapku padanya.

 

Aku sedikit berlari menuju café di sebrang jalan,  kedua sepatu putih yang menghiasi kaki ku pun langsung bersentuhan dengan genangan air yang membasahi setiap bibir aspal di tempat ini. Kurogoh kunci yang berada di ransel punggungku dan mengammbilnya.

Ku hidupkan mesin motor matic berlogo vespa ini dan mulai membawanya menuju halte tadi. Kulihat Jessica masih menatap lantai dan menggoyang-goyangkan kakinya pelan.

“hei ice princess! Sepertinya ahjussi masih terjebak macet, ini sudah mulai malam.. ayo aku yang antar” ucapku padanya sedikit berteriak. Ia menatapku sedikit kaget sambil menunjukan wajah bengongnya.

“ayolaah.. motorku memang tidak se keren motor sportnya yuri hahaha. kamu sudah malu ya kubonceng naik ini?” ledek ku padanya. Ia pun menghampiriku sambil tertawa.

Ku berikan helm pink milik tiffany padanya, kulihat dia sedikit jijik menatap warna pada helm yang ia terima.

“apa dia begitu special hingga kamu mau mengubah helm ini dengan warna yang paling kamu takuti?” dia sedikit meledekku soal warna pink ini, ayolaah.. semua orang pasti rela melakukan apa saja demi orang yang ia sayang, begitu juga denganku.

“aishh.. ayo cepat naik. Atau mau aku tinggal?”

Dengan segera ia duduk di belakangku dan memelukku, emm.. mungkin ini bisa dibilang sangat erat dari biasanya. Tapi sudahlah, tak ada salahnya seorang sahabat memeluk sahabatnya sendiri. Tanpa menunggu lama aku pun menjalankan motor ini menuju rumah sica dan pergi ke rumah kekasihku, Tiffany Hwang.

***

 

aku memencet bel rumah tiffany, tak perlu menunggu lama seorang gadis dengan rambut yang sedikit berantakan membukakan pintu rumah ini untukku. Dengan memeluk selimut berwarna merah mudanya ia mengucek-ngucek kedua matanya dengan lemah.

”taetae.. “

“malam sayang” aku menyengir sambil memberikannya selembar kertas yang terlipat menjadi 4 bagian. Kulihat wajahnya sedikit kebingungan menerima lipatan kertas berwarnah merah muda yang ada di tangan kanannya.

“apa ini ?”

Aku sedikit tertawa. Tanpa menjawab pertanyaannya langsung ku langkahkan kedua kaki ini menuju sofa di ruang tv dan merebahkan tubuhku disana. Ahh… rasanya seluruh badanku sangat lelah. Lalu,Ku pejamkan mata ini perlahan.

Bukk..

Kurasakan seseorang menimpa tubuhku, dengan perlahan kembali ku buka kedua mataku mencoba untuk melihat. Itu tiffany, dia menatapku dengan senyuman manisnya. Oh god… jantungku!

“aku tak tahu jika kamu itu romantis tae..” tatapannya berbinar, err.. ini sedikit berlebihan kukira tapi kurasa aku menikmatinya.

“ayolah kamu kan pacarku wajar saja aku meminta itu” ucapku tak acuh

“oh ya?” yah! Dia menampilkan smirknya padaku, omo ini menakutkan!

“kamu ga mau?” tanyaku lagi.

“as you wish. Tentu saja aku mau honey”

Tiffany mulai  mengecup bibirku perlahan. Oh yeah ini menakjubkan, ku kira.

Jari jari lembutnya mengelus pipiku , sedikit membuatku merinding. Nafasku mulai tercekat saat ia mulai menciumku dengan panasnya. Oh tuhan aku akan mati!

“yah.. kenapa kamu mendorong ku?!” dia mulai murka.

“a-ani.. tapi aku kehabisan nafas..” ucapku terengah-engah.

“hmm mianhe sayang aku terlalu bersemangat hehe” dia menampilkan senyum polosnya padaku.

Aku heran bisa jatuh cinta pada orang sepertinya, maksudku coba lihat kadang ia menyeramkan, kemudian berubah menjadi kelinci manis yang meminta wortelnya. Di suatu waktu ia juga berubah menjadi serigala pemangsa yang kelaparan dan sekarang dia menjadi bayi polos di depanku. Ini gila! Yah aku gila karena Tiffany seorang.

 

Tiffany datang dari arah dapur membawa snack dan minuman untuku kami berdua. Sementara aku hanya tiduran di sofa merah nya, rumah ini kebanyakan menyentuh warna terang sedikit membuat mataku sakit. Tapi ayolah, keluarga tiffany sangat fashionable sehingga aku sedikit nyaman walaupun aku tidak paham dengan hal semacam itu.

“aku memintamu kesini bukan untuk tiduran di situ, cepat duduk dan temani aku nonton” ia berkacak pinggang sambil menatapku. Aku hanya memutarkan mata dan duduk di sampingnya.

Ia memeluk pinggangku dan mulai menyenderkan kepalanya di bahuku. Yap, sepertinya dia suka membuatku tak bisa bernafas dengan normal.

Dia mulai larut dalam film bergenre romance yang ia putar. Ini bukan gayaku, tapi tak mengapa selama aku bisa menatap nya dari dekat saja sudah membuatku bahagia . jika di ingat-ingat, Aku dan dia dulu hanyalah tom and jerry yang selalu bertengkar karena insiden ponsel nya yang jatuh kejurang, sejak saat itu entah mengapa tiffany selalu menghantui hari hari ku. Dan sejak dua bulan berteman dengannya aku mendadak jatuh cinta dengan perhatian yang ia berikan padaku. Dan jangan lupakan satu hal jika dia sangat cantik dan seksi. Wajar saja aku sering cemburu saat namja-namja di sekolah membicarakan nya.

Tiffany seperti tau cara nya menjatuh bangunkan hatiku.

“kamu melamun eoh?” tanyanya sambil menatapku.

”ah.. apa? Oh iya apakah jack mati?” aku buru-buru menatap kea rah layar.

“bahkan kamu ga sadar kalo filmnya sudah selesai sejak tadi” dia tertawa mengejek.

“taetae.. aku ngantuk nih” rengeknya lagi dengan manja.

“ayo kita tidur sekarang” ucapku segera bangkit dari sofa. Ku matikan televisi berbentuk slim itu dan meletakan remotenya di meja. Ku lihat tiffany tidak juga beranjak dari posisi duduknya.

“waeyo boo?” tanyaku heran padanya.

“gendong aku”

Saatnya aku harus berjuang untuk sampai di lantai dua dengan selamat. Semoga saja.

 

 

 

TBC

 

 

 

 

*isi kertas yang di berikan taeyeon kepada tiffany.

 

peraturan yang harus di lakukan sebagai kekasih kim taeyeon:

  1.  memberikan poppo di pagi sebelum sekolah dan saat pulang.
  2.  tidak boleh di bonceng dengan motor lain selain si blue (nama motor taeyeon)
  3.  mencintai kim taeyeon dengan sepenuh hati 
  4. jangan memberikan senyum pada namja manapun
  5. saat menelfon di anjurkan untuk mengucapkan kata sandi “saranghae taetae”. 

                                                                                                 

                                                                                                  di setujui oleh,

 

                                                                                  bocah manis dan lucu, kim taeyeon.